Menekan Ruang Gerak Teroris
- ANTARA/M N Kanwa
Peran masyarakat, lanjut Jokowi, juga sangat penting untuk menghindari aksi-aksi terorisme dan radikalisme berkembang di masyarakat.
"Saya kira semua hal mengalami hal yang sama. Oleh sebab itu, kita berharap masyarakat juga ikut serta membentengi negara ini dari terorisme, dari radikalisme," katanya.
Sementara itu, Polri akan mengamankan perayaan ibadah Natal umat Kristiani. Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigjen Pol Rikwanto, di mana ada gereja, petugas akan datang.
"Koordinasi dengan pihak gereja dan pendeta untuk melakukan sistem pengamanan terbaik. Jadi jemput bola dan sistem diatur bersama, sehingga waktu pelaksanaan (ibadah) akan terjaga dengan baik," kata Rikwanto..
Rikwanto menuturkan bahwa polisi juga akan melakukan deteksi dini mengenai ancaman akan bahaya teror pada saat perayaan Natal umat Kristiani dan Tahun Baru 2017. Misalnya, dengan melakukan pemeriksaan kepada para jemaat yang akan memasuki tempat ibadah tersebut, supaya tidak ada yang menyusup membawa benda-benda berbahaya ke dalam gereja.
"Kami coba antisipasi hal-hal yang mungkin akan terjadi seperti terorisme dan lain-lain," ujarnya.
Selain itu, tidak menutup kemungkinan setiap pintu masuk gereja akan dipasang detektor atau pendeteksi bahan peledak.
Terkait jumlah personel yang akan diterjunkan, Rikwanto menyatakan bahwa institusinya akan menyesuaikan dengan kapasitas dan luas dari sebuah gereja tersebut. Lalu, berapa lama para jemaah melaksanakan kegiatan, dan seberapa besar potensi ancaman yang ada di gereja.
"Jadi jumlahnya disesuaikan dengan hal tersebut," katanya.
Sebagai pemantapan atas rencana pengamanan itu, Polri akan menggelar apel Natal dan Tahun Baru 2017 pada 22 Desember 2016. Kegiatan itu dilaksanakan di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
"Tugas kepolisian dibantu TNI dan masyarakat lainnya siap untuk mengamankannya," tutur Rikwanto.
