Jakarta dan Pengemis Musiman
- Dok. Sudin Sosial Jakarta Timur
Selanjutnya, Modus Mengemis
Modus Mengemis
Mengais rupiah dengan mengharapkan simpati belas kasihan menjadi modus pengemis. Cacat fisik jadi kasus yang sering diperlihatkan oknum pelaku. Mulai berjalan ngesot, kaki buntung, hingga jalan dituntun karena tak bisa melihat menjadi pemandangan biasa di tempat keramaian.
Belum lagi ada modus dengan membawa anak balita yang digendong dan sengaja beroperasi di perempatan jalan raya sampai tempat malam. Kemudian, menjelang malam, biasanya giliran fenomena manusia gerobak yang masih ada.
"Itu semua diduga jadi modus mereka. Kami akan bersikap tegas setiap ada kejadian ini," tutur Kepala Dinas Sosial Pemprov DKI Masrokhan, Senin, 12 Juni 2017.
Dalam praktiknya, oknum pengemis musiman ini beroperasi di sejumlah titik keramaian Ibukota. Bukan hanya mal atau tempat makan, namun pengemis musiman sudah menjamur di tempat ibadah. Bahkan, yang terbaru petugas dinas sosial mengamankan seorang perempuan yang pura-pura cacat dengan jalan ngesot.
![]()
Aldriana, mengemis dengan modus ngesot. Foto: VoxPop.co.id/Ade Alfath
Perempuan bernama Aldriana tersebut diamankan petugas dari area Car Free Day (CFD) dekat Plaza Indonesia, Minggu, 11 Juni 2017. Selama menjalankan aksinya, perempuan empat anak tersebut selalu lolos dari razia penjaringan petugas. Modusnya pun mengintruksikan anaknya dengan memata-matai petugas yang datang.
Dengan informasi dari anaknya, Aldriana akan pergi sebelum petugas datang untuk merazia. Namun, Aldriana tak selamanya mujur, karena petugas berhasil mengamankannya pada Minggu, 11 Juni 2017.
"Dia menggunakan anaknya untuk memata-matai petugas. Jika melihat petugas, dengan segera si anak memberi tahu ibunya," kata Kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Pusat, Susana Budi Susilowati.
Setiap menjalankan aksinya, Aldriana diketahui mendapatkan pendapatan yang lumayan. Dalam waktu dua jam, ia mampu mengantongi Rp200 ribu berkat aksi simpati warga yang melihatnya.
Sementara, dari analisis berdasarkan pengalaman sebelumnya, pengemis musiman ini diduga ada yang sengaja menampung di suatu tempat. Kemudian, ada pihak yang sengaja mendrop dari daerah. Jaringan ini diduga sudah saling mengenal. Semua ini diatur untuk sama-sama mencari keuntungan. "Modus operandinya seperti itu yang sudah-sudah," ujar Masrokhan.
