Menyoal Ide Motor Kembali ke Jalan Protokol
- VoxPopnews/Anhar Rizki Affandi
Sebab, kebijakan itu bertentangan dengan konsep transportasi berkelanjutan, di mana warga suatu kota didorong untuk menaiki transportasi umum, terlebih untuk daerah protokol. Sebenarnya, untuk aktivitas di dalam kota, warga didorong untuk berjalan kaki dalam jarak dekat dan menggunakan angkutan umum untuk jarak jauh. Semakin ke pusat kota, warga didorong untuk menggunakan transportasi publik.
Bila tujuannya untuk memberikan keadilan kepada seluruh warganya, hal tersebut perlu dikoreksi. Sebab, jika memberikan keadilan kepada warga, semestinya gubernur memihak kepada warga yang paling lemah, yakni para pejalan kaki. "Keadilan itu harus memihak yang paling lemah. Pejalan kaki dan pengguna transportasi umum karena mereka yang paling rentan terhadap ancaman kecelakaan lalu lintas," ujar Nirwono.
Kontroversi Warga
Soal rencana kebijakan Anies-Sandi itu, suara warga terbelah. Ada yang pro, ada juga yang kontra. Martin Sidabutar (25), pegawai swatsa di kawasan Thamrin, misalnya. Dia mendukung Anies menghapus larangan motor itu.
Dengan dihapuskannya kebijakan tersebut, membuat dia tidak harus bersusah payah lagi untuk mencapai kantornya. Sebab, sejak diberlakukan kebijakan itu, ia harus menempuh jalan memutar untuk sampai ke kantornya. "Selama ini jarak tempuh saya selalu lama. Bensin lebih banyak keluar," katanya ketika ditemui di kawasan Semanggi, Jakarta Selatan, Kamis, 9 November 2017.
Adapun Chandra Purnomo (30), warga Jagakarsa, Jakarta Selatan, menentang rencana Anies-Sandi. Menurut dia, wacana itu merupakan blunder. Seharusnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tetap mempertahankan kebijakan lama dan justru meningkatkan mutu transportasi umum di Jakarta. Hal itu agar banyak warga beralih ke kendaraan umum sehingga kemacetan di Jakarta bisa terus berkurang.
Ia melihat sudah banyak warga Jakarta yang sekarang sadar untuk beralih ke transportasi umum. Apabila wacana Anies-Sandi dilakukan, dia khawatir mereka yang sudah menggunakan transportasi umum akan kembali menggunakan sepeda motor.
"Apalagi TJ (bus Transjakarta) sudah sampai ke kota-kota penyangga. Sudah bagus enggak macet itu Thamrin, kalau dibolehin lagi ya macet lagi lah," kata Chandra. (umi)
