Sutradara Filipina Tak Takut Filmnya Dilarang Duterte

Filim Filipina di Festival Film Berlinale
Sumber :
  • dok festival film Berlinale

VoxPop – Di antara 6 film asal Asia Tenggara yang masuk di Internasional Film Festival Berlinale, 2 film berasal dari Filipina. film Ang Panahon Ng Halimaw di kategori Competition dan Babylon di kategori Berlinale Shorts. 

img_title Diperankan Happy Salma, Film Nana Masuk di Festival Film Berlin

Babylon merupakan nama sebuah desa fiksi di Filipina. Film pendek berdurasi 20 menit ini merupakan besutan sutradara muda Keith Deligero. Ia tak menyangka para penonton di festival sebesar Berlinale dapat tertawa saat menyaksikan filmnya. Di penghujung film, ia tampak gugup mengenalkan filmnya di hadapan penonton yang memadati studio  5 Cinemaxx, "Terima kasih sudah menyaksikan my silly film,” katanya sambil mengarahkan kamera mirrorlessnya ke arah penonton. 

Ditemui VoxPop, pasca pemutaran filmnya di bioskop Cinemaxx, Deligero berbicara tentang filmnya. "Saya tidak menyangka film ini bisa tembus Berlinale. Film ini bahkan tidak menggunakan bahasa Tagalog maupun bahasa Inggris tetapi bahasa daerah kami Cebuano". Deligero berasal dari Cebu city di pulau Cebu. Setidaknya, 18 juta orang di Filipina berbahasa Cebuano. 

img_title Alasan Film Asal China Ini Batal Diputar di Berlinale 2019

Menurutnya, film-film berbahasa daerah sangat sulit diproduksi secara komersial di Filipina, "Paling-paling diputar di komunitas penggemar film, festival film lokal, tetapi tak mungkin masuk bioskop utama Filipina," ungkapnya. Ini merupakan film pertamanya yang tembus ke festival film. 

Babylon merupakan film keempat Keith Deligaro. Film Babylon dibuat bersama tim film yang kebetulan sudah saling kenal di produksi sebelumnya. "Bagi saya film Babylon merupakan sebuah pelepas penat. Saya bisa lakukan apa yang saya mau. Sehari-hari, saya bekerja dalam  tim pembuatan berbagai film komersial. Seperti film film remaja, film jenis popcorn begitulah". 

img_title Potret Gelap Jerman di Berlinale 2019

Film ini berkisah tentang dua gadis dari kelompok radikal yang dikirim dari masa depan ke masa tahun 70-an, saat d imana belum ada telepon genggam atau internet. Tujuan utama kedua gadis itu mengadakan perjalanan waktu adalah untuk mengeksekusi Loy,  seorang kepala clan yang  juga kepala daerah berkuasa  kota Babylon (Loy selalu mengenakan Barong, kemeja khas Filipina). Loy merupakan  diktator negara itu di masa depan. . Film ini sarat potret kehidupan sehari-hari di pulau Cebu, daerah hijau berbukit, motor-motor 2 tak dan sabung ayam. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut