Reza Rahadian dan Christine Hakim Tampil di Pentas Taksu Ubud
- Istimewa
VoxPop – Seni, adat dan tradisi di Bali bukan hanya menjelma menjadi daya tarik wisata, tetapi juga pada awalnya adalah sarana bagi para pelakunya untuk terhubung dengan semesta.
Kegiatan seni dan budaya dapat dikatakan berhenti seketika saat masa pandemi ini. Tak ada lagi pertunjukan seni dan budaya yang menjadi daya tarik bagi wisatawan dalam dan luar negeri.
Inilah yang mendasari Titimangsa Foundation melalui founder sekaligus ketuanya, Happy Salma, dan bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia, menginisiasi sebuah pementasan bertajuk ‘Taksu Ubud’ yang berfokus pada ekspresi seniman Ubud dalam menyampaikan perasaannya pada alam dan pencipta.
‘Taksu Ubud’ juga menampilkan aktor-aktor Indonesia yang sudah tidak asing lagi namanya yaitu Reza Rahadian dan Christine Hakim. Pada perjalanannya selama kurang lebih empat bulan, karya ini menjadi kerja kolaborasi dengan banyak pihak, terutama seniman dan budayawan Ubud.
Happy Salma yang bertindak sebagai produser bagi pementasan ini menjelaskan bahwa ‘Taksu Ubud’ terinspirasi dari alam, gerak, tutur dan rasa ikhlas yang tidak berputus asa dari teman-teman di Bali, khususnya Ubud yang memang dekat di hatinya secara pribadi.
“Poin paling utama dalam proses kali ini adalah menyatukan energi kerja kolaborasi. Rasa yang menurut saya perlu dimiliki dalam situasi serba sulit seperti sekarang ini. Menyatukan perasaan kebersamaan dengan penuh tanggung jawab dan menghadirkan energi optimisme dan rasa saling mendukung untuk sebuah kerja kreatif yang datangnya dari hati karena bakti dan kecintaan pada seni, adat dan tradisi,” kata Happy.
Ida Ayu Wayan Arya Satyani atau lebih dikenal dengan Dayu Ani, sebagai Sutradara Gerak mengungkapkan, pemetasan ini merupakan karya unik dan menantang dikarenakan buah kerja kolaborasi.
“Kita tidak menempatkan salah satu elemen sebagai penunjang elemen yang lainnya. Semua posisinya sama penting, ya musik, ya koreografi, ya teatrikalnya, ya setting-nya. Tapi saya yakin, karya yang didedikasikan sebagai sebuah persembahan getaran itu jauh lebih penting daripada pemahaman. Pemahaman akan menyusul kemudian,” kata Dayu Ani.
