Kisah Inspiratif Penyintas Gempa Lombok 2018, Lahir dalam Keterbatasan Bertumbuh dengan Harapan
- docuseries
Meski dalam kondisi yang penuh kepanikan dan ketegangan, Jayadi tetap berusaha tegar demi keluarganya. Anaknya yang berusia 4 tahun bahkan berusaha menghilangkan rasa takut sendiri dengan meminta agar ia diperbolehkan bernyanyi. Namun, meskipun telah enam tahun berlalu, Jayadi mengaku bahwa trauma dari bencana tersebut tidak berangsur hilang. "Kadang, mendengar suara keras bisa membuat saya mengingat hari naas tersebut, bahkan istri saya bisa sampai gemetar dan sesak nafas, tapi saya mencoba mengalihkannya dengan pekerjaan," cerita Jayadi.
Lahir dalam Keterbatasan, Bertumbuh dengan Harapan
Lahir dari keluarga sederhana, Jayadi tumbuh dengan penuh perjuangan. Ayahnya seorang supir yang kemudian beralih menjadi petani, dan meski Jayadi dikenal sebagai anak yang cerdas dan bahkan menerima PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) yang memungkinkan Jayadi bisa masuk perguruan tinggi tanpa ujian, ia tidak ingin membebani orang tuanya dengan biaya pendidikan yang tinggi. “Saya tidak berani membicarakan apa yang saya dapatkan ke orang tua saya. Saya harus bekerja keras setelah lulus SMA untuk membantu keluarga,” ungkapnya.
Meskipun hidupnya penuh tantangan, Jayadi tidak pernah berhenti berusaha. Ia berhasil diterima bekerja di restoran McDonald’s Indonesia setelah tiga kali melamar. Pada tahun 2016, ia diangkat sebagai Regional General Manager (RGM) di Mataram, Lombok, sebuah posisi dengan tanggung jawab yang cukup besar, yang sempat membuatnya tidak percaya diri karena ia hanyalah seorang lulusan SMA.
Bencana gempa terjadi saat Jayadi sedang bertugas di Mataram. Meski demikian, gempa Lombok membawa banyak pelajaran baginya. Keberanian dan rasa tanggung jawab kepada keluarga serta masyarakat mulai membentuk pandangannya tentang hidup. Ia semakin merasa bahwa kehidupan harus berguna untuk orang lain. “Bencana Lombok menyadarkan saya bahwa hidup itu harus berguna untuk keluarga dan masyarakat. Saat melihat orang-orang baik yang memberi air dan selimut, saya merasa terinspirasi,” ujar Jayadi.
Bencana ini juga membawa Jayadi untuk lebih terlibat dalam kegiatan sosial. Ia bergabung dengan Sekaa, sebuah organisasi adat yang menghimpun keluarga-keluarga untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan masyarakat. “Sekaa mengajarkan saya bagaimana memiliki rasa empati, bekerja sama dengan orang lain, dan meredam ego demi kepentingan bersama,” jelasnya.
