Enzy Storia Nasihati Nicholas Sean Soal Perempuan
- Tangkapan Layar: YouTube
VoxPop Showbiz – Nicholas Sean yang sering disapa Sean ini dikenal warganet sebagai sosok seorang laki-laki yang cool, keras, dan mempunyai prinsip yang saklek. Karakter Nicholas Sean ini mengakibatkan banyak warganet yang merasa heran. Apalagi beberapa kali dirinya pernah mengaku tidak ingin dekat dengan perempuan dan membina rumah tangga.
Nicholas Sean merasa bahwa dia tidak harus menikah karena bukan sebuah hal yang wajib untuk mendapatkan kebahagiaan. Atas pengakuan tersebut, kini dia banyak diundang dalam acara talkshow. Seperti baru-baru ini, ia hadir bersama dengan Arafah dalam acara podcast KUY Entertainment pada 2 Agustus 2022 yang dipandu Enzy Storia.
Pada awalnya, Enzy Storia penasaran dengan pandangan putra sulung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok itu tentang seorang perempuan. Hal ini lantaran maraknya kasus pelecehan terhadap perempuan. Dengan gayanya yang santai dan tegas, Nicholas Sean menjawab pertanyaan tersebut.
Nicholas Sean, Enzy Storia dan Arafah
- Tangkapan Layar: YouTube
“Perempuan ya, mereka kayak gimana ya, very sensitive, menurut saya. Kayak pake perasaan, perempuan itu lebih pentingin perasaan. Jadi kayak dikit-dikit bisa tersinggung. Menurut saya perempuan gitu dan pasti pemikirannya beda gitu. Kalau perempuan pasti lebih mementingkan security, mereka mau nikah, mereka mau punya anak,” ucap Sean.
Ia menyebut bahwa laki-laki memiliki pemikiran yang berbeda dengan perempuan. Seorang laki-laki lebih menyukai tantangan dan bila tantangan tersebut sudah selesai, laki-laki biasanya akan mencari tantangan yang lain.
Sean mengatakan bahwa sangat lucu bila ada perempuan yang ingin setara dengan laki-laki atau bahkan melebihinya. Atas pernyataan tersebut, Nicholas Sean kemudian mendapatkan nasihat yang tegas dari Enzy Storia tentang hal tersebut.
Nicholas Sean dan Arafah
- Tangkapan Layar: YouTube
“Kamu kan orang yang berpendidikan, maksudnya belajar juga dan tahu sejarah-sejarahnya juga. Kalo menurut aku sih kayak memang perempuan dari zaman dulu tuh sangat ditindas, tidak bisa speak up. Cuman menurut aku dengan era sekarang senengnya banyak wanita lain yang speak up dan akhirnya menjadi pemimpin negara,” jelas Enzy.
Enzy tidak menyangkal bahwa perempuan memang lebih banyak menggunakan perasaan. Namun, ia menyebut bahwa bukan berarti seorang perempuan tidak bisa tegas dalam mengambil keputusan atau memimpin sesuatu.
