Konflik Konser Maher Zain di Indonesia, DNA Ambil Jalur Hukum
- ist
Ketika investor baru telah siap, Awakening Music justru tidak memberikan kepastian jadwal untuk konser Maher Zain di tahun 2025. DNA mengaku telah mencoba berkomunikasi secara intens, bahkan menawarkan pertemuan di Istanbul, namun Awakening tetap bungkam. Puluhan pesan tak dibalas, bahkan permintaan maaf dari Rina pun diabaikan oleh pihak Awakening, termasuk sang pendiri, Sharif Banna.
Puncak kekecewaan terjadi saat Awakening Music secara diam-diam membawa Maher Zain ke Indonesia untuk tampil dalam acara BSI di JHCC pada 28 Juni 2025. Konser ini digelar tanpa sepengetahuan DNA dan tanpa adanya pemutusan kerja sama secara resmi.
“Saya ada bukti kerja sama seperti rekening dan nama saya tertulis di buku Awakening Music,” tegas Rina.
Atas serangkaian insiden ini, DNA akhirnya mengambil langkah hukum sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kerugian materiil dan imateriil yang mereka alami. Kuasa hukum DNA, Hamzah Fansyuri, menegaskan bahwa Maher Zain seharusnya bersifat eksklusif dengan DNA di Indonesia.
“Awakening Music memainkan suasana, memboikot komunikasi dengan Bu Rina. Ini bukan hanya kerugian materiil, tapi juga reputasi DNA yang dipertaruhkan,” kata Hamzah.
Sebagai bagian dari langkah hukum, DNA juga mengimbau seluruh promotor, EO, dan penyelenggara acara di Indonesia untuk tidak menjalin kerja sama dengan artis di bawah naungan Awakening Music selama proses hukum berlangsung. Hal ini untuk menghindari keterlibatan dalam kontrak bermasalah yang dapat berdampak hukum di kemudian hari.
Rina menegaskan bahwa keputusan menggugat Awakening Music bukanlah langkah emosional, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap integritas kerja, syiar Islam, dan profesionalisme dalam industri hiburan Islami.
“DNA berkomitmen untuk terus menjaga kredibilitas industri hiburan Islami yang bermartabat dan profesional,” pungkasnya.
