Kisah Shin Tae-yong Bangun Timnas Indonesia dengan Hati dan Disiplin
- PSSI
VoxPop – Nama Shin Tae-yong masih jadi legenda di hati publik sepakbola Indonesia. Meski kini tak lagi duduk di kursi pelatih Timnas Indonesia, warisan semangat dan kedisiplinannya masih melekat kuat di dada para pemain dan penggemar sepakbola Tanah Air.
Pelatih asal Korea Selatan itu dinilai bukan hanya mengajarkan taktik dan strategi, tapi juga menanamkan filosofi hidup: kerja keras, disiplin, dan pantang menyerah. Ia datang membawa perubahan besar yang masih terasa hingga kini.
Tak banyak yang tahu bagaimana Shin memulai semuanya. Tahun 2019 menjadi titik balik sepak bola nasional, ketika PSSI resmi menunjuknya sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia.
Saat itu, skeptisisme sempat muncul, mulai dari perbedaan budaya, karakter pemain, hingga fasilitas yang jauh dari ideal. Namun Shin datang bukan untuk mencari alasan. Ia datang untuk membangun fondasi dan mental juara bagi Garuda.
“Tahun 2019 menjadi momen lahirnya era baru sepak bola Indonesia. Saat itu, federasi memperkenalkan pelatih baru dari Korea Selatan: Shin Tae-yong, sosok yang pernah membawa Korea Selatan menumbangkan Jerman di Piala Dunia 2018,” tulis Chung Ryu dalam bukunya SHIN TAE-YONG – Korean Garuda, yang segera dirilis, dikutip Minggu 19 Oktober 2025.
Ryu mengungkap, gaya latihan Shin terkenal keras dan perfeksionis. Banyak pemain dibuat kelelahan oleh intensitas latihan tinggi, namun hasilnya terlihat nyata, fisik meningkat, mental petarung tumbuh, dan rasa bangga mengenakan lambang Garuda kembali menyala.
“Dalam berbagai sesi latihan, STY dikenal keras dan perfeksionis. Tak jarang pemain dibuat kelelahan karena intensitas latihan yang tinggi. Tapi perlahan hasilnya terlihat, fisik meningkat, mental bertarung tumbuh, dan yang paling penting, muncul rasa bangga mengenakan lambang Garuda di dada,” tulis Ryu.
Lebih dari sekadar pelatih, Shin juga dikenal sebagai pembentuk karakter. Ia menanamkan disiplin dan etos profesional yang tinggi kepada pemain-pemain muda.
“STY tidak sekadar menyusun strategi di lapangan, tetapi menanamkan mindset juara. Disiplin ketat, pembinaan pemain muda, dan pola pikir profesional, tidak ada tempat bagi ego. Semua demi tim, bukan individu!,” ujar Ryu menirukan perkataan STY.
