Francesco Bagnaia Akui Kesalahan Fatal di MotoGP Valencia 2025: Semua Orang Bisa Salah, Tapi Saya Lebih Parah

Pembalap Ducati, Francesco Bagnaia
Sumber :
  • Ducati Corse

VoxPop – Francesco Bagnaia menjalani hari sulit pada MotoGP Valencia 2025. Pembalap Ducati Lenovo Team itu terpuruk setelah hanya mampu start dari posisi 16 dan finis di urutan 14 pada Sprint Race, menyusul kesalahan fatal saat kualifikasi.

img_title ITDC: Perputaran Ekonomi Ajang MotoGP Indonesia 2026 di Mandalika Diprediksi Lampaui Rp 4,9 Triliun

Bagnaia sempat menghentikan motornya di lintasan pada percobaan kedua Q1. Ia kemudian menegaskan bahwa insiden itu terjadi akibat miscalculations pada jumlah bahan bakar. Ia mengingatkan bahwa kesalahan seperti ini dapat terjadi pada siapa saja, baik pembalap maupun tim.

Bagnaia menyinggung bahwa dirinya pernah melakukan kesalahan yang jauh lebih mahal pada musim sebelumnya.

img_title Regulasi Pakai Satu Motor Terancam Batal, KTM jadi Penghalang Utama?

“Tahun lalu saya crash di Barcelona saat sedang memimpin, dan saya membuat tim kehilangan gelar juara, Jadi, semua orang bisa membuat kesalahan dan kesalahan saya lebih parah,” kata Bagnaia dikutip crash.net.

Pembalap Ducati, Francesco Bagnaia

Photo :
  • instagram.com/ducaticorse
img_title Klasemen MotoGP 2026 Usai Marc Marcuez Menggila di Sachsenring

Pembalap asal Italia itu mengungkap bahwa sesi latihan pagi sebenarnya menunjukkan progres positif, dengan kecepatan yang meningkat dan feeling yang lebih baik. Namun, semuanya runtuh saat motornya kehabisan bahan bakar di kualifikasi. Bagnaia menilai kejadian itu sebagai bagian dari dinamika pekerjaan di MotoGP.

Ia juga mengakui bahwa situasi musim yang berat membuat insiden ini tampak semakin buruk. Menurutnya, start dari posisi 16 di Sirkuit Ricardo Tormo merupakan tantangan besar karena karakter trek yang sangat menyulitkan untuk menyalip tanpa risiko kontak atau kecelakaan.

Bagnaia menilai sulit mengharapkan hasil lebih baik karena kecepatannya mirip dengan Fabio Quartararo yang finis di urutan ketujuh. Ia menyebut bahwa tanpa kecepatan ekstra yang signifikan, menembus para pembalap di depan hampir mustahil.

Meski performanya menurun, Bagnaia mengatakan bahwa sensasi berkendaranya tidak pernah berubah antara balapan yang baik maupun buruk.

“Feeling-nya selalu sama, hanya hasilnya yang berbeda,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa ketika mengendarai Desmosedici, ia selalu merasakan hal yang sama, mulai dari motor yang sulit berhenti, tidak mau berbelok, hingga pengereman yang tidak maksimal.

Bagnaia memberi contoh bahwa dengan feeling yang sama, ia bisa memimpin di Sepang, tercecer di posisi terakhir di Phillip Island, dan kini hanya mampu berada di posisi 16 di Valencia. Menurutnya, variabel seperti karakter sirkuit dan kondisi lintasan sangat memengaruhi hasil akhir.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut