Pasti Menangis, Perjuangan Sabar Karyaman dari Sakit Asma Sejak Kecil, Kurang Dana Hingga Raih 2 Emas SEA Games

Ganda putra Indonesia Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani
Sumber :
  • Instagram @badminton.ina

VoxPop – Air mata haru seolah tak terelakkan saat pasangan ganda putra Indonesia, Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani, memastikan medali emas nomor individual SEA Games 2025 berada dalam genggaman.

img_title Bulutangkis Kapolri Cup 2026 Resmi Dibuka Diikuti 1.219 Peserta dari Kategori Umum, Polri dan Difabel

Kemenangan itu bukan sekadar catatan prestasi, melainkan potret panjang perjuangan, pengorbanan, dan doa yang akhirnya terbayar lunas.

Di partai final, Sabar/Reza tampil luar biasa saat berhadapan dengan pasangan tangguh Malaysia, Aaron Chia/Soh Wooi Yik.

img_title Piala Kapolri 2026 Dimulai, Polri dan PBSI Siapkan Panggung Calon Juara Indonesia

Dengan ketenangan dan kepercayaan diri, mereka menyudahi laga dalam dua gim langsung, 21-14 dan 21-17. Emas individual ini melengkapi emas beregu yang sebelumnya telah mereka raih, menjadikan SEA Games 2025 sebagai panggung bersejarah dalam perjalanan karier keduanya.

Namun, di balik sorak sorai kemenangan, tersimpan kisah sunyi yang jarang terdengar. Bagi Sabar, medali emas ini bukan hanya tentang podium tertinggi, melainkan jawaban atas perjalanan panjang yang penuh ketidakpastian. Ia dan Reza bahkan masuk skuad SEA Games dalam situasi serba mendadak.

img_title Sabar/Reza Dibuat Frustrasi Ganda Inggris, Rekor Buruk Makin Panjang di China Open 2026

"Pastinya sangat senang, sangat bersyukur. Ini salah satu berkat yang luar biasa kami bisa masuk tim SEA Games di last minute, hitungannya. Dan kami bisa memberikan penampilan yang terbaik, baik itu di individual maupun di tim kemarin. Mudah-mudahan ini menjadi tren positif untuk kami, menjadi motivasi untuk lebih meraih prestasi lain," kata Sabar.

Kebahagiaan itu terasa semakin dalam jika menengok kisah masa kecil Sabar. Sang ayah, Thomas Garlan, membuka kembali lembaran perjuangan kepada VoxPop.CO.ID, yang nyaris membuat langkah sang anak terhenti sebelum sampai sejauh ini. Bukan hanya soal latihan keras, tetapi juga perjuangan melawan penyakit dan keterbatasan ekonomi.

"Ceritanya panjang, Pak. Dulu anak saya punya asma berat. Sering masuk rumah sakit, bahkan sampai tengah malam. Saya khawatir kalau terus minum obat ada efek samping saat dewasa. Akhirnya saya ajak olahraga,” kenang Thomas kepada VoxPop.

Keputusan membawa Sabar ke dunia olahraga awalnya bukan untuk mengejar prestasi. Itu murni upaya seorang ayah menyelamatkan kesehatan anaknya. Bulu tangkis dipilih bukan karena ambisi, melainkan karena harapan sederhana agar sang anak bisa bernapas lebih lega.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut