Kasus Pelecehan Seksual Red Sparks Memanas, Netizen Korea Ramai-Ramai Hujat Permintaan Maaf Klub

Heboh pelecehan seksual yang terjadi di klub Red Sparks.
Sumber :
  • Kolase VoxPop / Instagram red_sparks / tangkapan layar volleybox

Banyak pihak akhirnya menyimpulkan bahwa surat tersebut hanyalah "permintaan maaf setengah hati yang dibuat di bawah tekanan."

img_title Kasus Oknum Guru Diduga Serahkan Murid ke Suami, Korban Disebut Anak Yatim

Tak sedikit pula yang mempertanyakan kesungguhan klub.

"Bukankah dia tidak berniat meminta maaf?"

img_title Bukan Sekadar Comeback, Megawati Hangestri Bawa Misi Juara Bersama Hyundai Hillstate

Ungkapan yang paling memicu kemarahan adalah ketika klub menyebut dugaan pelecehan seksual itu hanya sebagai "masalah kepemimpinan."

Bagi banyak penggemar, pilihan diksi tersebut dianggap meremehkan dugaan tindak pelecehan seksual yang dialami korban.

img_title Bakal Saksikan Rekannya, Ini Jawaban Megawati Hangestri saat Ditanya Perbedaan Timnas Voli Indonesia dan Korea Selatan

Publik juga menilai klub lebih sibuk meminta maaf kepada para penggemar karena telah menimbulkan keresahan, namun sama sekali tidak menyampaikan permintaan maaf secara jelas kepada pemain yang diduga menjadi korban.

Padahal, menurut mereka, korban seharusnya menjadi pihak pertama yang mendapatkan permintaan maaf.

Tidak adanya penyebutan mengenai korban dianggap menunjukkan minimnya empati, bahkan oleh sebagian penggemar dipandang sebagai bentuk "viktimisasi sekunder."

Kontroversi juga muncul terkait peran pelatih kepala Ko Hee-jin.

Dalam laporan media Korea, STN News, Ko Hee-jin hadir dalam makan malam ketika dugaan pelecehan terjadi. Namun, klub menyatakan baru mengetahui persoalan tersebut pada Mei tanpa memberikan penjelasan bagaimana hal itu bisa terjadi.

Selain itu, pernyataan resmi hanya menyebut pengunduran diri Pelatih A tanpa memberikan penjelasan mengenai tanggung jawab maupun status Ko Hee-jin ke depan.

Bagi para penggemar, hal tersebut merupakan kekurangan besar dalam surat permintaan maaf.

Mereka juga mempertanyakan tidak adanya informasi mengenai kondisi psikologis korban maupun rekan-rekan satu tim setelah insiden tersebut.

Begitu pula dengan langkah perlindungan terhadap pemain serta mekanisme pencegahan yang dijanjikan klub, seluruhnya dianggap hanya disampaikan secara normatif tanpa rincian yang jelas.

Akibatnya, banyak penggemar menyebut surat tersebut bahkan tidak layak disebut sebagai permintaan maaf.

Pelatih Red Sparks, Ko Hee-jin.

Photo :
  • KOVO

Sebagian besar kini menuntut hukuman lebih tegas terhadap pihak-pihak yang terlibat.

Selain meminta Ko Hee-jin dan Pelatih A diberhentikan secara permanen, para penggemar juga berencana menggelar gerakan pengumpulan tanda tangan nasional dan mengirimkan petisi kepada sejumlah kementerian di Korea Selatan.

Di kolom komentar Naver, kritik terhadap klub terus bermunculan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut