Perbafi Soroti 3 Hal dalam Kecelakaan Angkat Berat yang Tewaskan Justyn Vicky

Binaragawan Justyn Vicky
Sumber :
  • Tangkapan layar

Jakarta – Ketua Umum Persatuan Binaraga dan Fisik Indonesia (PERBAFI), Kemalsyah Nasution buka suara terkait binaragawan asal Bali, Justyn Vicky yang meninggal setelah tertimpa barbel seberat 210 kilogram.

img_title Angkat Besi Indonesia Punya Resep Sukses, Juara Dunia dan Prestasi Tak Bisa Instan

Justyn mengalami insiden mengerikan saat latihan mengangkat barbel lebih dari dua kuintal di sebuah pusat kebugaran di Bali, The Paradise Bali.

Dalam video yang viral di media sosial Justyn terlihat gagal mengangkat beban tersebut dengan sempurna. Ada orang lain yang membantu Justyn menahan beban tersebut namun ia juga kehilangan keseimbangan dan terjatuh. 

img_title Dari Podium Olimpiade Hingga Militer: Rizki Juniansyah Wujudkan Cita-cita Ayahnya Jadi Perwira TNI

Terkait hal itu, Ketua Perbafi Kemalsyah Nasution mengatakan sebenarnya ini bukanlah hal yangh baru. Sebab, ia juga pernah mengalami kejadian serupada pada 1997 lalu. Namun, dalam kasus Justyn ada tiga hal yang ia soroti.

Pertama adalah seharunya Justyn saat akan melakukan angkatan dijaga oleh minimal tiga orang dari sisi kanan, kiri, dan belakang. 

img_title Pecahkan Rekor Dunia, Rizki Juniansyah Terima Pengakuan Resmi Guinness World Records

"Memang kalau kekurangan yang pertama itu kurang bijak dalam arti harus ada yang menjaga minimal tiga orang, Kiri kanan, belakang yang menjaga," kata Kemal kepada VoxPop.

"Jadi yang belakang itu harus dalam posisi seperti memeluk dari belakang, sehingga saat dia tidak kuat bisa menahan. seperti orang meluk. Nah, itu yang saya kurang bijak," sambungnya.

Kemudian, Kemal juga menyebut bahwa Justyn terlihat panik saat gagal melakukan angkatan. Dia juga menyoroti tidak adanya pelindung di bagian pundak Justyn saat melakukan angkatan.

"Dan apa yang terjadi dia panik dan tidak dibuang ke depan. Tahun 97 saya merasakan hal yang sama," ucapnya.

"Namun biasanya kalau kita menggunakan bar yang cukup berat, normalnya di pundak itu ada spons atau handuk agar bisa mengurangi rasa sakit di bagian leher dan pundak. Makanya saya memperhatikan banyak yang minus," jelasnya.

Hal ketiga yang disoroti Kemal adalah prihatin lantaran rekan-rekan Justyn tidak sigap dalam menolong. 

"Yang ketiga dia panik, jadi saat dia tidak bisa naik harusnya menggunakan otot bahu untuk mendorong tapi posisi nungging jadi tidak kena ke leher," tuturnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut