Kolaborasi Longines dan Equinara Cetak Atlet Berkuda Berkualitas Internasional
- istimewa
Ia juga melihat potensi besar dari atlet-atlet muda Indonesia. Namun, menurutnya, masih dibutuhkan lebih banyak kompetisi internasional untuk menambah jam terbang para atlet.
“Di Eropa, hampir setiap pekan ada kompetisi kelas internasional. Sementara di Indonesia, baru ada tiga kali kompetisi FEI di Equinara. Kami berharap ke depan akan lebih banyak lagi,” kata dia.
Thorsten juga menyoroti peningkatan jumlah peserta yang signifikan dalam enam tahun terakhir. Jika pada 2019 hanya terdapat 21 atlet muda yang berpartisipasi, kini jumlahnya melonjak hingga 80 peserta.
“Itu menunjukkan bahwa antusiasme dan kualitas meningkat. Namun, masih ada pekerjaan rumah, terutama dalam penyediaan kuda berkualitas dan peningkatan level kompetisi. Jika sekarang rata-rata tinggi rintangannya 1 meter, bisa ditingkatkan 10-20 cm agar tantangan makin terasa,” pungkasnya.
Kolaborasi antara LWEA dan Equinara ini membuktikan bahwa dengan pembinaan yang tepat dan berkelanjutan, Indonesia mampu melahirkan atlet berkuda berkualitas internasional.
Sementara itu, di kelas CSI1 riders muda asal Jakarta, Teuku Rifat Harsya berhasil menjadi juara dengan catatan waktu 63,98. Rifat mengungguli Nurstdinov Zayan di peringkat kedua dan Arseri Rizky.
