Fakta Menarik Triple Crown, Gelar Paling Prestisius di Arena Balap Kuda
- istimewa
Sejauh ini, baru dua kuda yang berhasil: Manik Trisula (2002) dan Djohar Manik (2014). Selebihnya, banyak yang nyaris—seperti King Master (2006), Queen Thalassa (2019), hingga Bintang Maja (2023)—namun gagal di satu leg.
Ketua Komisi Pacu PP PORDASI, Ir. H. Munawir, menjelaskan bahwa Triple Crown Indonesia disesuaikan dengan kemampuan kuda lokal. Jarak Derby dibatasi 2.000 meter agar tak membebani fisik. "Karena kuda di sini belum kuat kalau dibuat sejauh 2.400 meter seperti di luar negeri," ujarnya.
Sama seperti di negara lain, Triple Crown Indonesia hanya bisa diikuti oleh kuda usia tiga tahun. Artinya, hanya ada satu kesempatan sepanjang karier seekor kuda untuk menjadi juara sejati.
Indonesia Menanti Sejarah Baru
Tahun ini, Indonesia berpeluang mencatatkan nama baru dalam sejarah. Setelah sukses di IHR–Triple Crown Serie 1 dan 2, kuda King Argentine kini hanya tinggal selangkah lagi menuju mahkota.
Jika ia mampu memenangkan Kelas 3 Tahun Derby di ajang IHR–Indonesia Derby pada 27 Juli mendatang, maka King Argentine akan menjadi kuda ketiga yang menyandang gelar Triple Crown di Indonesia.
Triple Crown bukan hanya soal kecepatan. Ia adalah kombinasi kekuatan, konsistensi, strategi, dan sedikit keberuntungan. Banyak yang mencoba, hanya sedikit yang berhasil. Dunia telah membuktikannya. Kini, Indonesia menanti—apakah sejarah akan kembali tercipta di lintasan pacu Tanah Air?
