Wanita Tunatetra Bersuara Raisa Bikin Semarak Peparnas
- VoxPop.co.id/Suparman (24-10-16)
"Untuk difabel yang bertanding, kita perlu klasifikasi. Kenapa? Karena tanpa klasifikasi, tidak akan ada pertandingan yang fair karena tingkat kecacatan itu berbeda," ungkap Yanti di Hotel Ibis Kota Bandung Jawa Barat, Minggu 23 Oktober 2016.
Menurutnya, klasifikasi yang dilakukan yaitu penekanan kepada kemampuan si atlet. Jika kemampuannya melampaui ambang batas dari cabor yang didaftarkan maupun tidak memenuhi standar, pihaknya memberikan rekomendasi cabor lain.
"Kalau sekilas, bisa sama. Tapi ketika periksa, dari kekuatan otot itu berbeda dan memiliki point. Dan itu (poin) akan disesuaikan dengan cabornya,"
Oleh karena itu, atlet Peparnas sebanyak 1.983 orang itu bertanding di cabor masing-masing dipastikan sesuai dengan tingkat kecacatan yang sama. "Pedomannya itu I Vice Handbook dengan setiap cabor ada. Kita lakukan klasifikasi itu besar-besaran. Dari 34 kontingen rata mengalami perubahan, yang banyak mengalami perubahan itu renang, atletik dan tenis meja," ungkapnya.
Yanti mengatakan, proses klasifikasi itu berjalan dengan mekanisme administrasi entry by name, by number. "Dicek kalau memang masuk di cabor itu tidak masalah kalau masuk, tinggal menentukan tetap atau cabornya berubah. Tapi ada juga saat klasifikasi poin yang dia butuhkan pada cabor itu tidak masuk, maka kita anjurkan dan jelaskan kalau kamu pada poin ini kurang untuk cabor, saya sarankan ke cabor lain,"
Yanti mencontohkan, proses klasifikasi cabor renang yang diharuskan untuk tuna netra, tuna daksa, tuna grahita dan wicara. "Yang diubahnya itu poin. Biasanya perubahan itu di tunadaksa dan tunanetra," katanya.
