Mampu Nggak Sih Pesilat Wanita yang Ngaku Sakti Tampil di Asian Games?

Chintya Candranaya
Sumber :
  • instagram.com/chintyacandranaya

VoxPop – Pesilat wanita Indonesia, Chintya Candranaya masih menjadi pembahasan utama di dunia beladiri nasional. Dia sempat menganalisa beberapa cuplikan video yang melibatkan para petarung MMA. Penilaiannya, MMA tak efektif dalam pertarungan jalanan.

img_title Masih Ingat Hoa Minzy? Suporter Cantik Vietnam yang Bikin Salfok Fans Timnas Indonesia di SEA Games 2023

Bukan cuma itu, Chintya kerap menunjukkan aksi-aksi kontroversial di media sosial. Dia juga mengaku memiliki kesaktian. Beberapa aksinya macam menghindari tembakan peluru, menghancurkan pilar tembok, hingga membengkokkan batang besi.

Belum lagi saat ada klaim yang muncul dari sang manajer, Anjar Weni. Dia menyebut Chintya mampu mengalahkan 40 orang sekaligus, dan membunuh lima di antaranya.

img_title Pelatnas Jangka Panjang Jadi Angin Segar, PB IPSI Yakin Pencak Silat Kian Mendunia

Logikanya, kalau memang Chintya sesakti itu, seharusnya dia bisa mengharumkan nama Indonesia di level internasional. Utamanya di ajang Asian Games 2018 dan SEA Games 2019 atau di kedua ajang tersebut pada edisi selanjutnya.

Chintya Candranaya

img_title Tak Pandang Bulu, Indra Sjafri Ceritakan Momen Coret Tiga Pemain Timnas Indonesia Jelang SEA Games: Pulang Jam 3 Pagi

Namun pada kenyataanya, Chintya tak ada saat para pesilat Indonesia menggemparkan Asia. Sebanyak 14 emas dan satu medali perunggu berhasil diraih tim pencak silat Indonesia di Asian Games 2018. 

Pun, batang hidung Chintya tak terlihat saat pencak silat Indonesia merebut dua emas, tiga perak, dan dua perunggu di SEA Games 2019 Filipina.

Nah, mungkin nggak sih Chintya, pesilat wanita yang ngaku sakti ini tampil di Asian Games dan SEA Games selanjutnya? 

Pelatih kepala tim pencak silat Indonesia di Asian Games 2018, Rony Syaifullah mengatakan, ada banyak tahapan bagi seorang pesilat bisa mewakili Indonesia di kancah internasional.

Pelatih kepala Timnas Pencaksilat Asian Games 2018, Rony Syaifullah

Prosesnya juga begitu berat dan ketat, tidak bisa hanya dinilai dari aksi-aksi di media sosial saja. Pertama, para pesilat harus mampu keluar dari seleksi antar perguruan di tingkat kabupaten. Kemudian, antar kabupaten di tingkat provinsi dan antar provinsi di tingkat nasional.

"Ini sudah menjadi standar, dan tahapannya memang sangat berat. Ketika kita bicara tentang fenomena yang terjadi di media sosial, apalagi di zaman seperti itu, sulit mempercayai aksi-aksi itu," kata Rony kepada VoxPop, Senin 17 Agustus 2020. 

"Jadi, kalau memang mau berprestasi ya coba dibuktikan. Dari antar kabupaten, provinsi, bisa atau tidak lolos disitu? Dengan kesaktian apapun lah embel-embelnya. Kalau dia bisa menyelesaikan pertandingan di level-level tersebut ya otomatis dia akan terpilih," ucapnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut