Fenomena Sanseito: Mengapa Anak Muda Jepang Tertarik pada Partai Populis Anti-Imigran?

Warga Jepang
Sumber :
  • Pixabay

Jepang,VoxPop – "Dulu musik rock adalah simbol perlawanan terhadap sistem. Hari ini, politik adalah 'rock' baru. Senjata kami bukan gitar, melainkan kata-kata."

img_title Korban Tewas Akibat Gempa Bumi Dahsyat di Jepang Bertambah Jadi 38 Orang

Itulah salah satu slogan unik yang digunakan oleh Sanseito, partai populis sayap kanan baru di Jepang yang tengah menyedot perhatian generasi muda. Didirikan pada masa awal pandemi COVID-19 tahun 2020, partai ini berkembang cepat dengan memanfaatkan rasa frustrasi publik terhadap kebijakan pemerintah, termasuk soal imigrasi, penanganan pandemi, dan konstitusi pascaperang.

Dilansir laman Jepang, Mainichi, Minggu 29 Juni 2025, tak hanya mengusung narasi anti-imigran, Sanseito—yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Party of Do it Yourself—juga lantang menyerukan revisi Konstitusi Jepang tahun 1947. Bahkan, sebagian pendukungnya mendorong kembalinya slogan era Kekaisaran Jepang seperti Hakko Ichiu yang pernah digunakan untuk membenarkan ekspansi militer ke Asia.

img_title Membandingkan Game RPG Jepang dan Barat, Dua Filosofi Desain yang Membentuk Industri Game Selama Puluhan Tahun

Tumbuh Lewat Kekecewaan dan Media Sosial

Dalam pemilu majelis rendah Oktober tahun lalu, Sanseito berhasil meraih tiga kursi. Kini, di bawah pimpinan Sohei Kamiya, mereka menargetkan enam kursi di pemilu majelis tinggi musim panas ini.

img_title Jepang Turunkan Pemain Bintang di Asian Games 2026, Timnas Voli Putri Indonesia Wajib Waspada

Popularitas Sanseito melejit seiring meningkatnya ketidakpuasan terhadap kondisi ekonomi Jepang dan jumlah turis asing yang memecahkan rekor. Banyak pendukungnya merasa orang asing kini mendapatkan perlakuan yang lebih baik daripada warga Jepang sendiri. Mereka khawatir budaya Jepang perlahan terkikis.

Perayaan Gadis Jepang Menjadi Dewasa Dengan Kimono

Photo :
  • VoxPop.co.id/Anhar Rizki Affandi

Sanseito berakar kuat di media sosial. Kampanyenya menyatukan sentimen nasionalisme dengan krisis identitas dan kekhawatiran terhadap masa depan. Dalam berbagai forum diskusi partai, seperti yang terjadi di Prefektur Wakayama, banyak peserta yang mengusulkan perubahan konstitusi agar menyatakan bahwa "Jepang adalah milik rakyat Jepang" dan melarang kepemilikan lahan oleh orang asing.

“Sebelum menuntut hak, orang asing harus terlebih dahulu memenuhi kewajiban sebagai manusia,” ujar salah satu peserta perempuan.

“Benar. Jepang sudah seperti surga bagi orang asing,” tambah yang lain.

Daya Tarik di Kalangan Anak Muda

Fenomena mengejutkan adalah banyaknya anak muda Jepang yang justru merasa tersentuh oleh narasi Sanseito.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut