Misi Rahasia Badi
- U-Report
Aku ingin kelak dewasa layak menggantikannya. Bagiku tak ada yang lebih mulia selain mengupayakan rumah terbaik dan ternyaman bagi semua Badak Jawa, lantas melindungi kesemuanya dengan sebaik-baiknya. Hal itu bisa jadi terkait pula dengan cita-cita mulia kakekku yang belum sempat diwujudkannya: membawa semua kami berpindah sangat jauh, tak terjangkau manusia, dan tak perlu lagi sibuk-sibuk memikirkan untuk menyenangkan hati mereka, agar jumlah kaum kami dapat meningkat jadi lebih banyak.
Ya, apa perlunya menyenangkan hati manusia? Aku bahkan sangat membenci mereka, sangat membenci perlakuan mereka pada kaum kami. Manusia, bagiku, telah menjadi penyebab aku kehilangan rasa bahagia, kehilangan kesempatan lebih lama bermanja dan mendengarkan kisah-kisah zaman dari mulut kakekku.
Ya, manusia lah penyebabnya hingga aku kehilangan kakek sekitar empat tahun lalu. Ia ditemukan tewas tak jauh dari batas luar hutan ketika sedang memenuhi tugas berpatroli. Meski tak diizinkan melihat jasadnya, aku diam-diam mengintip tanpa sepengetahuan siapa-siapa.
Saat itu aku tak bisa berhenti menahan tangis. Satu-satunya yang terasa hanyalah sakit yang teramat sangat padahal aku tahu tubuhku sedang tidak sakit. Sepasang mataku dapat dengan jelas melihat tubuh gagah kakek bersimbah darah, tergeletak tak berdaya.
Cula kebanggaannya lenyap entah ke mana. Itulah kali pertama aku mendengar kemarahan ayah menggetarkan bumi tempatku berpijak, merontokkan dedaunan dari banyak macam pepohonan, melontarkan satu kata ke langit lepas dengan mata api menyala: Manusia! Namaku Badi. Usiaku lima tahun kini. Aku adalah bungsu dari empat bersaudara kaum Badak Jawa yang hidup di kesunyian Ujung Kulon.
Aku tengah mengemban misi rahasia yang disepakati oleh diriku sendiri dan baru hanya dengan kalian saja aku bagi. Entah bagaimana caranya aku harus bisa mempelajari utuh bumi ini, bukan hanya semata hutan yang aku tinggali. Entah bagaimana caranya aku harus bisa mempelajari bagaimana membaca pertanda di langit dan memahami pesan-pesan yang dihantarkan angin.
Aku ingin mewujudkan impianku agar di masa nanti tak akan ada lagi bocah-bocah Badak Jawa yang mengalami kehilangan sebesar yang aku alami. Sebagai bonus, mungkin, aku akan mempersembahkan Kubang Lumpur Paling Surga yang kualitas lumpurnya lebih istimewa. Bukan hanya sekadar menjadikan kami merasa jauh lebih tampan dan cantik, melainkan juga lumpur yang mampu melanggengkan kebahagiaan dan keberlangsungan hidup kami di dunia ini. (Cerita ini dikirim oleh Sikuke)
