Ketika Nasib Badak di Ujung Cula

setetes harapan sang badak
Sumber :
  • U-Report

Buah-buahan yang dimakan oleh badak antara lain kemlandingan (petai cina), pepaya dan pisang: pada pembukaan hutan, semak-semak dan jenis vegetasi yang lain tanpa pohon besar. Badak menjatuhkan pohon muda untuk meraih makanannya dan mengambilnya dengan bibir atasnya.

img_title Indahnya Hidup Bertoleransi

Badak Jawa merupakan badak pemakan yang sangat bisa beradaptasi dari seluruh spesies badak. Badak diperkirakan makan 50 kg makanan /hari. Layaknya badak Sumatera, spesies badak ini membutuhkan garam untuk makanannya. Area melacak mineral umum tak ada di Ujung Kulon, namun Badak Jawa tampak minum air laut untuk nutrisi sama yang diperlukan.

Populasi dan Habitat Badak Jawa

img_title Basa-basi Bikin Sakit Hati

Badak Jawa dapat hidup selama 30-45 tahun di alam bebas. Badak ini hidup di hutan hujan dataran rendah, padang rumput basah, dan daerah daratan banjir besar. Badak Jawa kebanyakan bersifat tenang, kecuali untuk masa kenal-mengenal dan membesarkan anak walaupun suatu kelompok kadang-kadang dapat berkumpul di dekat kubangan dan tempat mendapatkan mineral.

Badak dewasa tidak memiliki hewan pemangsa sebagai musuh. Badak Jawa biasanya menghindari manusia, tetapi akan menyerang manusia jika merasa diganggu. Deskripsi mengenai habitat asli badak Jawa sulit ditemukan, bahkan dalam literatur-literatur tua hanya disebutkan bahwa habitat Badak Jawa adalah hutan tanpa deskripsi lebih jauh.

img_title Sumbang Saran untuk Pengendalian Banjir di Jakarta

Dalam kenyataannya, Badak Jawa tersebar di wilayah-wilayah dengan hutan selalu hijau dengan curah hujan tinggi dan bulan hujan sepanjang tahun. Hanya satu literatur yang menyebutkan bahwa habitat Badak Jawa adalah "padang rumput tinggi" (high grass jungle) (Thorn dalam Sody, 1959). Badak Jawa lebih beradaptasi di lingkungan dataran rendah ketimbang daerah pegunungan, khususnya apabila mereka hidup simpatrik dengan Badak Sumatera (Dicerrorhinus Sumatrensis) yang lebih beradaptasi dengan lingkungan pegunungan (Groves, 1967).

Bila hanya Badak Jawa yang ditemukan di suatu wilayah, misalnya Pulau Jawa, mereka juga menempati habitat pegunungan (Sody, 1959 ; Groves, 1967) . Pada tahun 1839, Junghun bertemu dengan dua ekor badak Jawa di puncak Gunung Pangrango (Van Steenis, 1972).

Pada saat ini, semenanjung Ujung Kulon (39.200 ha) merupakan satu-satunya habitat bagi populasi Badak Jawa yang "viable" di dunia. Secara umum vegetasi di Semenanjung Ujung Kulon dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu : manusia dan letusan Gunung Krakatau (1883); hutan primer yang tersisa hanya ditemukan di Gunung Payung dan sebagian kecil puncak Telanca (Amman, 1985; Hommel, 1987), sedangkan sisanya merupakan vegetasi sekunder. Secara lebih spesifik, habitat Badak Jawa meliputi seluruh komponen lingkungan yang mempengaruhinya dan secara fungsional memberikan pakan, air dan perlindungan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut