Roses in Black Tears
Berhari-hari saya hanya bisa berharap dia akan kembali pada saya. Saya jalani satu tahun setengah dengan hidup menyendiri, berusaha menyelesaikan skripsi yang sempat tertunda karena saya seperti tak punya harapan lagi. Hari-hari yang berat harus saya terima, melupakan, namun semakin ingat, mengikhlaskan adalah jawabannya.
Pada awal tahun 2016, sebuah awal yang tak pernah saya duga, karena saya bisa bertemu dengan seseorang yang sangat baik mirip dengan dia yang meninggalkan saya. Dia yang berinisial R. Perkenalan yang juga tanpa sengaja, entah apa selanjutnya kala itu saya tak berani berharap pada sesosok R, saya hanya takut sakit hati dan gagal lagi. Namun, dia datang terus dan bersedia menjadi bagian dari hidup saya. Saya jalani hubungan yang tak lagi terpisahkan jarak, saya akhirnya putuskan “iya” untuk menerimanya. Saat saya dan R sedang menikmati awal pacaran, tiba-tiba seseorang dari masa lalu saya datang.
Ya, F datang lagi. Marah dan ingin saya ledakkan semuanya, namun sebuah kenyataan datang dari F. Sebuah kabar atau lebih tepatnya sebuah kebenaran yang selama ini ia sembunyikan dariku, sebuah permintaan maaf yang dulu ia buat tentang pertunangannya dengan wanita lain. F menceritakan bahwa di pertengahan 2014, sebuah pemeriksaan dokter mengatakan bahwa ia sakit, sakit ginjal kanan dan kiri serta bronkitis.
Sebuah foto rontgen dokter ia kirim pada saya, sebuah permintaan maaf, sebuah pengakuan bahwa selama ini ia meninggalkanku bukan tanpa alasan. Dia sakit dan tak ingin saya menderita karenanya. Dia tak ingin saya ikut menanggung penyakitnya, karena itulah dia meninggalkan saya dan memberi tahu bahwa dia telah bertunangan dengan wanita lain. Selama ia meninggalkan saya, ia berjuang mencari obat untuk kesembuhan atas penyakitnya, berbagai cara ia dan keluarganya lakukan, dan tak ada pertunangan.
Sebuah air mata mengalir tanpa bisa saya cegah, inilah cara Tuhan menjawab doa-doa saya selama ini. Entah kenapa ia memberitahu saya mungkin karena dia tak lagi sanggup menyimpan rahasia itu lagi. Saya katakan padanya bahwa saya telah menjalin hubungan serius dengan laki-laki berinisial R. Saya tak tahu apa yang dia rasakan, cemburu atau apalah saya tak tahu, yang jelas, sampai kapanpun F akan selalu ada di hati saya.
