Cinta dari Emak Sang Guru Petualang

Emakku, sang guru petualangku.
Sumber :
  • U-Report

Pelajaran kedua, saat ulang tahunku yang ke-8 emak mengajak aku mengunjungi saudara kami di Kerinci, Jambi. Suasana disana sangat berbeda dengan kampung halamanku. Banyak pohon besar setinggi rumah di pinggir jalan. Jalanannya pun tak seramai di kampungku. Beberapa kali kami melewati wilayah hutan. Banyak tebing dan bukit besar nampak menjulang cantik di kejauhan. Setelah aku beranjak dewasa ini, aku baru tahu bahwa bongkahan tanah yang besar itu adalah Gunung Kerinci. Gunung berapi tertinggi di Indonesia.

img_title Nothing is Impossible

Di sana cara berpakaian dan bahasa orang-orang yang kutemui sangat berbeda. Ini pertama kali aku bertemu orang dengan latar belakang budaya berbeda. Dan pengalaman yang paling kuingat adalah emak membentakku karena menertawakan cara bicara atau logat mereka. Sosok emak yang kutahu sangat kalem dan jarang marah sebelumnya tiba-tiba membentak membuatku kaget, hingga aku akhirnya ketakutan dan kembali menangis. Emak menasehatiku bahwa hal tersebut sangat tidak sopan. Hal yang tidak pantas untuk dilakukan dengan menertawakan pembicaraan atau logat orang lain yang kita jumpai.

Pelajaran ketiga, pada saat liburan sekolah. Setelah masa ujian nasional, emak mengajakku ke Pantai Bale Kambang sebagai hadiah karena aku berhasil masuk peringkat 5 besar di sekolah. Bukan keindahan gulungan ombak atau pasir putih nan halus yang berkesan, namun pengalaman dikejar seekor anjing coklat tua-lah yang paling membekas.

img_title Lima Tips Menjadi Pribadi yang Menyenangkan

Iya, anjing coklat tua. Anjing itu milik salah satu warga atau nelayan lokal di pesisir pantai tersebut. Sebenarnya sih saat itu aku hanya melemparnya dengan pasir, tapi tiba-tiba anjing itu berlari sambil menyalak ke arahku seakan mau menerkamku hidup-hidup. Pahlawanku datang, tanpa rasa takut emak perlahan mendekati anjing itu sambil mengeluarkan bunyi-bunyian dari mulutnya. Ajaibnya si anjing berhenti menjadi beringas setelah kepalanya dielus manja oleh emak. Anjing itu terus menggosokkan kepalanya ke kaki emak. Tak lama setelahnya, pemilik anjing datang dan meminta maaf pada kami. Emak sungguh seorang "guru petualang" sejati bagiku.

Enam tahun setelah itu, pertama kalinya aku melakukan perjalanan seorang diri tanpa ditemani emak. Aku pergi ke Gunung Lawu bersama seorang teman. Aku berkenalan dengan banyak orang selama di perjalanan. Mengobrol banyak hal bersama warga lokal di basecamp, bertemu musang liar berwarna biji kopi di tengah jalur pendakian, serta membuat api unggun bersama rombongan "ORAD" (Olah raga Arus Deras) dari salah satu universitas di Jogja.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Sepenggal Kisah Bertahan Hidup di antara Kemelut Kehidupan
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut