Kisah Kakek Penjual Roti Selai

Roti Selai
Sumber :
  • U-Report

Di tas gue sekarang ada dua nasi bungkus. Nasi bungkus pertama rencanya mau gue kasih buat kakek dan nasi bungkus kedua buat gue sendiri. Isi nasi bungkus pertama nasi + ayam + telur + sayur + tahu + tempe. Sengaja gue isiin banyak biar si kakek kenyang. "Kek, roti selainya 5, ya. Buat saudara saya di rumah. Selainya dicampur aja," kata gue. "Oh iya dek,” jawab kakek.

img_title 32 Klub Berebut Tiket ke Thailand, Turnamen U-16 di Jakarta Jadi Ajang Lahirnya Calon Bintang Timnas Indonesia

Dengan cekatan si Kakek langsung meracik roti selai pesanan gue. "Kek, makan bareng saya, yuk. Saya janjian makan sama temen saya, tapi temen saya malah gak bisa datang padahal sudah saya beliin. Kalau saya bawa pulang ke kost juga mubazir, gak ada yang makan," kata gue ngebokis. "Aduh, jangan Dek. Gak enak saya," kata si kakek. "Ayo kek, gak apa-apa. Dibanding gak ada yang makan," kata gue setengah memaksa sambil menjuluarkan nasi bungkus itu.

"Kakek tunggu di sini ya, saya beli minum dulu. Beli nutrisari saja ya Kek, samain sama saya." "Jangan, jangan Dek. Gak usah, ini sudah lebih dari cukup." Setelah sedikit berdebat akhirnya si kakek mau nerima nasi bungkus + nutrisari dingin.

img_title BGN Beri Batas Waktu Dapur MBG Urus SLHS hingga 10 Agustus 2026

Gue makan di sebelah kakek sambil bercerita banyak hal. Bisa panjang kalau misalnya gue tulis di sini apa yang diceritain oleh si kakek. Intinya gue mendapat banyak hal yang baru tentang berjuang dan berusaha. Bener kata kakek, kita gak pernah tahu, Tuhan bakalan kasih apa ke kita, tapi di balik semua usaha yang kita lakukan, Tuhan pasti kasih yang terbaik.

Tuhan tidak pernah terlambat. Dia juga tidak tergesa-gesa. Dia selalu tepat waktu.Gue bukan orang yang bakalan nyumbang ketika dompet amal dibuka di televisi atau di koran. Gue juga bukan orang yang akan terlibat ke organisasi sosial buat ngumpulin sembako atau datang ke lokasi bencana buat kasih bantuan.

img_title Pertamina Patra Niaga Perkuat Desa Energi Berdikari di Bali

Jelas itu bukan style gue. Tapi dengan roti selai di tangan kiri gue dan melihat si kakek senang dan bersyukur karena bisa makan enak, entah kenapa gue ngerasa jauh lebih baik dari mereka. (Cerita ini dikirim oleh Stefanus Sani, Bandung, Jawa Barat)

Ilustrasi garis polisi.

Nahas, Pemilik Bakery Legendaris Tewas dalam Mesin Roti

Tak ada yang melihat, saat dia jatuh ke dalam mesin roti.

img_title
VoxPop.co.id
26 Juni 2018
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut