Kisah Kakek Penjual Roti Selai
- U-Report
Di tas gue sekarang ada dua nasi bungkus. Nasi bungkus pertama rencanya mau gue kasih buat kakek dan nasi bungkus kedua buat gue sendiri. Isi nasi bungkus pertama nasi + ayam + telur + sayur + tahu + tempe. Sengaja gue isiin banyak biar si kakek kenyang. "Kek, roti selainya 5, ya. Buat saudara saya di rumah. Selainya dicampur aja," kata gue. "Oh iya dek,” jawab kakek.
Dengan cekatan si Kakek langsung meracik roti selai pesanan gue. "Kek, makan bareng saya, yuk. Saya janjian makan sama temen saya, tapi temen saya malah gak bisa datang padahal sudah saya beliin. Kalau saya bawa pulang ke kost juga mubazir, gak ada yang makan," kata gue ngebokis. "Aduh, jangan Dek. Gak enak saya," kata si kakek. "Ayo kek, gak apa-apa. Dibanding gak ada yang makan," kata gue setengah memaksa sambil menjuluarkan nasi bungkus itu.
"Kakek tunggu di sini ya, saya beli minum dulu. Beli nutrisari saja ya Kek, samain sama saya." "Jangan, jangan Dek. Gak usah, ini sudah lebih dari cukup." Setelah sedikit berdebat akhirnya si kakek mau nerima nasi bungkus + nutrisari dingin.
Gue makan di sebelah kakek sambil bercerita banyak hal. Bisa panjang kalau misalnya gue tulis di sini apa yang diceritain oleh si kakek. Intinya gue mendapat banyak hal yang baru tentang berjuang dan berusaha. Bener kata kakek, kita gak pernah tahu, Tuhan bakalan kasih apa ke kita, tapi di balik semua usaha yang kita lakukan, Tuhan pasti kasih yang terbaik.
Tuhan tidak pernah terlambat. Dia juga tidak tergesa-gesa. Dia selalu tepat waktu.Gue bukan orang yang bakalan nyumbang ketika dompet amal dibuka di televisi atau di koran. Gue juga bukan orang yang akan terlibat ke organisasi sosial buat ngumpulin sembako atau datang ke lokasi bencana buat kasih bantuan.
Jelas itu bukan style gue. Tapi dengan roti selai di tangan kiri gue dan melihat si kakek senang dan bersyukur karena bisa makan enak, entah kenapa gue ngerasa jauh lebih baik dari mereka. (Cerita ini dikirim oleh Stefanus Sani, Bandung, Jawa Barat)
