Ingin Anak Wanita, Suamiku Rela Menduakanku
- U-Report
“Yang sabar ya, Ma. Mungkin Mama sakit hati dan terluka karena ulah ayah, tapi bersabarlah demi kami ya, Ma!” ujar putra sulungku penuh harap. Kuhela napas perlahan. Benar juga kata putraku, aku tidak boleh menyerah. Hidup kami harus tetap berjalan meski tanpa kehadirannya di sisi.
Untuk sementara, kucoba bersabar mengikuti alur yang ada seraya berharap akan datang keajaiban yang dapat mengembalikan semua kebahagiaan. Meski diam, aku terus memantau gerak-gerik suamiku dan wanita yang kabarnya sudah dinikahinya secara siri itu. Hatiku begitu was-was manakala tahu kalau wanita itu tengah mengandung buah cintanya dengan suamiku. Apalagi mendengar cerita tetangga sekitar rumah wanita nakal itu, kalau suamiku akan menceraikanku dan menikahinya secara sah jika berhasil memberinya anak perempuan.
Kutukan demi kutukan terlontar dari bibirku. Aku tak menyangka, pikiran suamiku begitu picik. Di saat emosiku memuncak, kembali tangan-tangan mungil anakku mencoba membelai hatiku hingga aku kembali melunak. “Berdoa, Ma. Karena hanya doa yang mampu mengubah segalanya,” kata sulungku bijak. Ujian dan nasihat orang-orang di sekitarnya membuat pikiran anakku semakin bijak. Sungguh aku merasa malu, jika tak bisa menjadikan ujian ini sebagai celah untuk menggapai rida-Nya.
Kini di setiap waktuku, aku mencoba hapus gelisah dengan lantunan doa dan pengharapan untuk keutuhan rumah tanggaku. Hari itu pun tiba, di mana kulihat kekecewaan di matanya. Wanita yang diharapkan mampu mewujudkan impiannya ternyata melahirkan bayi laki-laki. Hatiku tersenyum kala itu, setidaknya aku merasa Allah masih berpihak padaku. Namun. cemas kembali menghantui manakala aku mendengar cerita kalau si perempuan itu tak akan pernah menyerah untuk bisa memberikan anak perempuan kepada suamiku.
Tepat tujuh bulan kemudian, aku mendengar kehamilannya lagi. Kembali aku dilanda kecemasan yang mendalam manakala ancaman perceraian seraya melayang-layang dalam ingatanku. Kembali kusungkurkan diri dalam sujud panjang di hadapan-Nya. Kuminta agar mata hati suamiku terbuka dan bisa mengingat kenangan indah bersama kami. Keajaiban pun berulang. Aku kembali menatap kekecewaan di matanya.
