Ibu dan Kisah Masa Lalunya
“Kalau malam dulu jarang ada air karena tinggal di gunung. Jadi sebelum tidur, ibu masukkan air ke dalam cerek dan ibu letakan di samping bantal. Kalau jam 1 pagi terbangun dan mau salat jadi tinggal wudu di situ, di tanah yang tidak ada lantainya. Karena kamar mandi gelap sekali kalau malam,” jelas ibuku untuk ketiga kalinya.
Aku benar-benar tidak habis pikir. Hitam putih jalan hidup mungkin sudah ia rasakan. Kini keriput banyak terpahat di tulang wajahnya. Hingga aku sebagai anaknya dapat hidup layak dan tidak harus membajak sawah untuk bisa makan. Kasih sayang untuk tiga anak perempuan berambut ikal ini tidak pernah terputus. Bahkan ketika kami sempat melawannya. Terima kasih ibu untuk 21 tahun kebersamaan dan tawanya. (Tulisan ini dikirim oleh Hanifah P Utami, mahasiswa Universitas Pancasila, Jakarta)
