Luka Pilkada Jakarta yang Masih Terasa

Pilkada Jakarta 2017 Putaran Ke-2
Sumber :
  • VoxPop.co.id/M Ali Wafa

VoxPop.co.id – Pilkada DKI Jakarta memang telah berakhir. Tetapi bekas luka itu sampai saat ini masih terasa. Pilkada DKI Jakarta memang berakhir aman. Tetapi suasana batin itu tetap mencekam.

img_title Golkar Ngotot Ajukan Kader Internal di Pilgub Jakarta 2024

Semuanya adalah bagian dari  sejarah kelam berbangsa dan bernegara yang kelak kita juga berpotensi mengalami hal yang sama. Di mana perpecahan berdasarkan identitas ketuhanan bahkan berpotensi pecah atas dasar identitas kesukuan.

Perpecahan Indonesia adalah mimpi buruk bagi kita semua. Sehingga banyak yang mesti kita lakukan agar perpecahan itu perlahan menjauh dari kita. Saya tentunya terperangah ketika mendengar ada anak-anak di bangku TK sampai SD di beberapa tempat didoktrin untuk tidak hormat kepada bendera sebab alasan keagamaan.

img_title Unggah Foto Jokowi dan Ahok, Fadli: Sejarah Simpan Misteri

Saya berpikir, apakah ini yang dimaksud dengan "ketaatan keras kepala"? Doktrin ini jauh dari rasa cinta tanah air dan juga terlampau kolot. Padahal persoalan ini sudah tuntas sejak lama. Bahkan dalam perspektif Nahdlatul Ulama  jelas bahwa agama dan nasionalisme bukan untuk dipertentangkan, tetapi saling menyokong.

Lalu, untuk apa lagi kita harus kembali memperdebatkan hal yang sudah dibahas oleh leluhur kita? Bukankah itu sia-sia saja? Bahkan itulah faktor kemunduran kita dalam berbangsa dan bernegara dikarenakan kita masih saja sibuk berdebat tentang hal-hal yang tak perlu diperdebatkan lagi.

img_title Buya Syafi'i soal Ganjar: Layak, kalau Tak Dipanggil Jakarta

Pilkada DKI Jakarta menyisakan kepiluan dan kebodohan kita dalam konteks gampang terhasut pola permainan politisi busuk. Bagaimana bisa partai-partai yang berteriak Al Maidah di Pilkada DKI Jakarta, tetapi di Pilkada daerah lain malah Al Maidah tak diberlakukan sama seperti di Jakarta.

Tercatat ada sejumlah daerah yang menggelar pesta demokrasi bersamaan dengan Jakarta tetapi dengan pola permainan yang tentunya berbeda. Lihat saja di Kabupaten Seram bagian Barat, partai-partai yang teriak Al Maidah di Pilkada Jakarta malah mengkhianati Al Maidah dengan mengusung calon beragama lain selain yang seagama dengannya.

Kenapa Jakarta masih saja seperti kebakaran jenggot soal Al Maidah? Jawabannya adalah karena aktor politik di balik semua itu tahu jika Jakarta hanya bisa dimenangkan dengan pisau agama. Lalu kenapa pula Al Maidah tak berlaku di Maluku dan daerah lain? Tak lain dan tak bukan adalah karena Maluku terutama Seram bagian Barat, pisau agama dalam hal ini Al Maidah tak bisa setajam seperti di Jakarta.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut