- Tangkapan layar akun Youtube tvOne
Pasaran suara perorang berkisar 50.000-150.000 rupiah. Jika paket DPR Pusat, Provinsi dan Kabupaten/kota, maka seorang pemilih bisa dapat 150.000-450.000 rupiah. Ada juga yang kebagian 500.000 rupiah per orang.
Rasyid yang menjadi ketua tim saya di 2009, ketika saya caleg dari Golkar, mengatakan tahun ini lebih buruk dari semua tahun pemilu. Banyak petahana yang tumbang karena tidak memprediksi mahalnya harga "menyuap" rakyat. Perkataan Rasyid ini sudah dikabarkan Romahurmuziy alias Romy, tokoh PPP, seminggu lalu. Dia mengatakan politik uang sudah gila-gilaan. Pragmatisme rakyat tidak terkendali lagi. Manusia Indonesia hancur tanpa idealisme artinya tanpa kehormatan.
Hancurnya mentalitas rakyat atau manusia Indonesia saat ini terjadi karena penjejalan bonsosisasi pemilu. Pragmatisme rakyat muncul karena patriotisme dinihilkan dan "pork barrel politics" (politik gentong babi) diutamakan. Kekuasaan diperebutkan dengan tanpa moral, tanpa cita-cita dan tanpa idealisme. Yang penting menang. Rakyat harus disuap.
Seratus juta rakyat miskin Indonesia saat ini menjadi manusia hina. Mereka menjadi korban pemilu. Kecurangan pemilu yang bersifat TSM (Terstruktur, Sistematis dan Masif), yang berbasis pada iming-iming, seperti uang bansos Rp600.000 yang dijanjikan cair sebelum pilpres itu, ternyata membuat rusak korteks otak, rusak jiwa, rusak mental, dan rusak hati manusia kita.
Penutup
Jiwa manusia adalah pembimbing kehidupannya. Puasa telah membebaskan manusia miskin dari penderitaan lahiriah. Orang-orang Islam di Palestina, seperti yang mengajari Laurens Booth tentang makna puasa, memperlihatkan bahwa kehormatan hidup tidak luntur karena miskin. Bahkan, ketika mereka sabar dan memiliki keberanian hidup, kemiskinan menjadi bukan persoalan. Mereka dapat menjadi manusia sempurna.
Bangsa Indonesia harus kembali ke ajarannya, khususnya ummat mayoritas Islam. Mereka harus melihat ajaran puasa sebagai jalan menuju manusia terhormat. Mereka harus bebas dari ketakutan atas kemiskinan. Dan elit-elit bangsa jangan lagi melakukan politisasi kemiskinan, politisasi bansos dan mengkuantifisir kemiskinan menjadi "voters". Saatnya elit-elit bangsa membimbing rakyat ke arah yang benar, sebuah kemerdekaan hidup dan patriotisme.
Selamat datang bulan suci Ramadhan. Marhaban Ya Ramadhan. (Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle)
