Memaknai IPM Indonesia
- vstory
IPM di Indonesia memang sudah tergolong tinggi, namun IPM yang tinggi ini ditopang beberapa provinsi saja, seperti DI Jogjakarta dan DKI Jakarta. Kedua provinsi ini masuk tergolong IPM sangat tinggi.
Sedangkan IPM terendah ditempati oleh Indonesia Bagian Timur seperti Provinsi Papua (60,62) dan Papua Barat (65,26). Nilai IPM Indonesia timur ini berada di bawah IPM Nasional, di mana IPM Nasional 72,29.
Perbedaan yang cukup besar antara IPM DKI Jakarta (81,11) dan Papua (60,62) mengindikasikan adanya disparitas di kedua provinsi tersebut. Walaupun secara umum, IPM Papua di tahun 2021 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2020. Namun tetap tidak melebihi IPM Nasional apalagi IPM DKI Jakarta. Artinya, kesenjangan kesejahteraan sangat mencolok terjadi antara kedua provinsi ini.
Berdasarkan data tersebut selisih IPM DKI Jakarta dan Papua sebesar 20,49 serta Papua Barat sebesar 15,85. Artinya untuk mengejar kondisi DKI Jakarta di tahun 2021 ini, Papua membutuhkan 31 hingga 32 tahun lagi, sedangkan Papua Barat membutuhkan 24 hingga 25 tahun lagi.
Ini menandakan bahwa Negeri Cendrawasih benar-benar tertinggal dibandingkan Ibukota. Penghitungan kasar IPM ini menjadi isyarat bahwa disparitas provinsi di Indonesia benar-benar terjadi. Perbedaan disparitas ini menjadi pekerjaan rumah yang harus dikerjakan pemerintah Indonesia.
Pemerintah bukan hanya fokus meningkatkan indikator-indikator sosial-ekonomi saja, namun memperbaiki kualitas pembangunan manusia di tiap provinsi, sehingga disparitas semakin dipersempit, bisa dimulai dari indikator pembentuk IPM ini. (Dita Christina, PNS di Badan Pusat Statistik)
