Peluang dan Tantangan Pemuda Digital
- vstory
Karakter pemuda sekarang cenderung lebih mementingkan hasil dibanding proses. Proses yang panjang dipandang sebagai sesuatu yang menjenuhkan. Mereka mengiginkan mendapatkan segala sesuatunya dengan cepat (instan). Hal ini mengakibatkan semua informasi yang diterima langsung ditelan mentah-mentah tanpa difilter sebelumnya.
Studi Istiana (2016) menyebutkan, suka berkolaborasi adalah karakter yang menonjol dari generasi sekarang sehingga mereka menyukai kerja tim serta memiliki kemampuan multitasking. Dari semua karakter yang telah disebutkan, beberapa dipandang membawa manfaat dan bisa menjadi modal pembangunan. Namun beberapa karakter justru berpotensi sebagai ancaman ke depan.
Masa pandemi Covid-19 yang terus berkepanjangan hingga sekarang layaknya katalisator pada pemanfaatan teknologi digital di Indonesia. Berbagai kebijakan pemerintah yang diberlakukan untuk membatasi pergerakan masyarakat berdampak pada tingginya akses Internet dan aktivitas dunia maya.
Bersumber data Kementerian Komunikasi dan Informasi, penetrasi internet berkembang pesat selama tahun 2020 sebesar 53,73%. Naik 6,04?ri tahun 2019 yang sebesar 47,69%.
Sementara data BPS menunjukkan angka Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IP-TIK) tahun 2020 turut naik menjadi 5,59 dari tahun sebelumnya yang tercatat 5,32. Kenaikan ini dipicu faktor pandemi yang mengharuskan masyarakat mengurangi kontak fisik dan mengalihkan aktivitasnya secara daring melalui platform-platform digital.
Sisi positifnya masyarakat lebih melek teknologi. Di sisi lain peningkatan arus konten digital semakin massive baik berupa teks, gambar, infografis, foto dan video telah menjadi konsumsi publik yang sangat diminati kawula muda bahkan anak-anak sekalipun.
Dampak buruknya tindak pornoaksi, pornografi, hoaks, ujaran kebencian, konten radikal, bahkan kejahatan daring hingga kasus narkoba semakin hari kian memprihatinkan. Hal ini sebagai alarm untuk selalu berhati-hati dan selektif dalam memilah dan memanfaatkan informasi, karena jika tidak derasnya arus informasi-komunikasi di era digital ibarat candu yang bisa menjerumuskan generasi bangsa ke depannya.
Teknologi digital sudah menjadi suatu kebutuhan hidup. Kita tidak bisa mengendalikan pesat laju teknologi. Namun kita harus mampu mengantisipasi pengaruh buruk kencangnya arus informasi-komunikasi.
Beberapa langkah antisipasi yang bisa diupayakan, yaitu:
Pertama, mengoptimalkan fungsi keluarga dalam pola mendidik anak. Keluarga memegang peran penting dalam membentuk generasi berkualitas. Orang tua sebagai role model sekaligus madrasah pertama bagi anak.
