Sastra: Media Propaganda Penjajah
- vstory
Selanjutnya, dalam rangka memperbanyak karya propaganda, Jepang bekerja sama dengan berbagai harian seperti Jawa Baru untuk mengadakan sayembara penulisan cerita baik cerpen maupun naskah sandiwara. Cerpen “Radio Masyarakat” karya Rosihan Anwar menjadi bagian dari pemenang, serta mendapat hadiah uang Rp 50,00. Cerpen tersebut dimuat H.B Jassin dalam bukunya Gema Tanah Air.
Berbagai karya sastra baik puisi, cerpen, atau naskah sandiwara yang bertujuan untuk propaganda, oleh H.B. Jassin dikenal dengan karya propaganda. Jepang sangat menghendaki kebijakan terhadap karya-karya untuk tujuan propaganda, namun banyak pengarang yang keberatan. Misalnya, Usmar Ismail yang awalnya sangat percaya dengan janji dan slogan-slogan Jepang, kemudian menjadi curiga. Sementara itu, Chairil Anwar, Amal Hamzah dan beberapa temannya memang sejak awal sudah menaruh curiga kepada Jepang, mengolok-olok seniman yang berkumpul di Kantor Pusat Kebudayaan.
Banyak sastrawan yang menulis karya sastra untuk tujuan propaganda dan beberapa juga memiliki sikap kejujuran dan keikhlasan dalam berkarya. Mereka lebih menekankan pentingnya seni untuk seni, bukan sastra untuk propaganda. Hal ini bisa terlihat pada artikel-artikel yang mereka tulis, seperti artikel “Seni Oentoek Seni” karya Soebrata Arya Mataram, “Kesoestraan” karya Amal Hamzah dan “Bahasa dan Sastera” karya B. Rangkoeti.
