Al-Qur'an dan Ilmu Pengetahuan

Foto: Dokpri & hak cipta penulis.
Sumber :
  • vstory

VoxPop – Al-Qur’an menjadi titik sentral peradaban umat manusia khususnya bangsa Arab pada masa awal-awal diturunkannya. Dalam posisinya sebagai kitab sentral, meminjam ungkapan Komaruddin Hidayat, tak ada satu pun kitab suci selain Al-Qur’an yang daya gravitasi dan kemampuan akomodatifnya dirasakan begitu kuat, sehingga sekian banyak persilangan pendapat di kalangan umat Islam, selalu ada rasa memiliki tempat dan pembenaran dari Al-Qur’an.

img_title Nggusu Waru: Karakter Kepemimpinan Masyarakat Bima

Al-Qur’an merupakan wahyu Allah Swt yang diturunkan dalam bentuk teks yang autentik. Dari kenyataan itu, Nashr Hamid (w. 2010) mengatakan bahwa Al-Qur’an merupakan kitab sakral karena berasal dari wahyu Allah SWT, tetapi pada saat yang bersamaan Al-Qur’an juga merupakan kitab profan karena berisi teks sebagaimana teks-teks pada umumnya. Kenyataan ini menjadikan kandungan Al-Qur’an tidak bertentangan antara wahyu dan akal manusia, bahwa Al-Qur’an merupakan wahyu yang rasional, dan akal merupakan sarana dalam rangka memahami wahyu.

Berangkat dari uraian di atas, kita dapat mengatakan bahwa tak ada pertentangan atau dikotomi antara wahyu dalam hal ini Al-Qur’an dan akal dalam hal ini ilmu pengetahuan. Pernyataan ini bukan tanpa latar belakang; pertama karena realitas kehidupan manusia dewasa ini khususnya umat Islam yang terjebak dalam kerangka berpikir positivisme epistemologis yang mengarahkan pada dikotomi antara Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan, kedua karena umat Islam terjebak pada pengkultusan bahwa hanya ilmu agama yang penting, sedangkan ilmu umum (sains) atau selain daripada ilmu agama itu tidak penting, karena menganggap hanya dengan ilmu agamalah umat Islam bisa masuk surga. Alasan ini menjadikan umat Islam hanya berkutat pada perselisihan dan perpecahan yang kemudian melahirkan kejumudan berpikir, dan menghambat kemajuan umat itu sendiri.

img_title Diskriminasi Muslim di India, Normalkah?

Sesungguhnya Al-Qur’an tidak pernah mengajarkan kepada manusia khususnya kita sebagai umat Islam tentang dikotomi ilmu, karena pada dasarnya semua ilmu itu bersumber dari Allah Swt.

Dan inilah yang diajarkan sejak awal oleh Rasulullah SAW bersama para sahabatnya yang kemudian dilanjutkan oleh para ulama dan cendekiawan muslim sampai pada saat ini. Bisa dilihat misalnya pada ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW yakni iqra’. Perintah ‘membaca’ dalam hal ini bukan bersifat parsial, tetapi membaca secara universal dan transenden, dan tentu mesti dilandasi dengan nilai ke-Tauhid-an. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT meyebutkan bagaimana universalitas atau keluasan ilmu-Nya:

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Dinamika Reformasi Arab Saudi: Kasus Konser Musik
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VoxPop.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut