Golkar, Gonjang-ganjing Koalisi dan Poros Tengah
- vstory
Selain itu, dari tiga poros, hanya poros Prabowo yang belum memberikan tanda-tanda siapa cawapresnya. Sehingga, peluang Airlangga untuk menjadi Cawapres di poros Prabowo, lebih besar dibanding peluang Airlangga untuk menjadi Cawapres Anies Baswedan yang sudah mengantongi nama AHY, atau Ganjar Pranowo yang sudah mengantongi Sandiaga Uno dan Erick Thohir.
Melihat arah Golkar akan berlabuh ke mana, juga bisa dilihat dari seberapa besar kehadiran Golkar dapat memberikan nilai tambah. Dan hal ini, sangat terkait dengan posisioning para capres.
Dari tiga calon presiden saat ini, kita bisa lihat kalau Anies Baswedan mewakili figur kelompok Islam dan Ganjar Pranowo mewakili figur kelompok nasionalis. Bagaimana dengan Prabowo? Di 2019, basis utama pemilih Prabowo adalah kelompok pemilih Islam. Namun dengan kehadiran Anies Baswedan saat ini, posisi Prabowo sebagai figur yang mewakili kelompok Islam menjadi tergeser. Prabowo pun diprediksi akan kehilangan dukungan dari segmen pemilih Islam.
Meski berpotensi ditinggal segmen pemilih Islam yang beralih ke Anies Baswedan, Prabowo sebenarnya dapat memanfaatkan keadaan dengan memposisioningkan sebagai capres figur "tengah".
Posisioning sebagai capres tengah ini penting mengingat secara statistik, berdasarkan catatan data Poligov, 49 persen pemilih di Indonesia berada pada segmen kelompok pemilih tengah, yakni pemilih nasionalis yang cenderung memiliki pandangan keagamaan yang moderat. Sementara kelompok pemilih yang sangat Pro-Islam dan Pro-Nasionalis masing-masing hanya sebesar 16.3 persen dan 33.9 persen.
Golkar sebagai partai yang basis pemilihnya berada pada segmen kelompok nasionalis-relijius, dapat memperkuat image Prabowo sebagai partai tengah yang menyatukan kekuatan kelompok Islam dan Nasionalis.
Meski poros Gerindra-PKB sudah mengamankan tiket untuk Prabowo, kehadiran Golkar tetap memiliki nilai tambah signifikan untuk memperkuat posisioning Prabowo sebagai figur capres “tengah”.
Mencairkan ketegangan
Selain itu, bergabungnya Golkar dengan Gerindra dan PKB, akan sangat kondusif untuk menciptakan konfigurasi pilpres 2024 yang lebih cair dan mereduksi potensi terulangnya ketegangan akibat narasi politik identitas seperti pemilu 2019.
Tidak bisa dibayangkan jika pada Pilpres 2024 nanti hanya 2 poros. Anies vs Ganjar atau Prabowo vs Ganjar. Kondisi ini tentunya akan membuat dua capres secara alamiah akan berada pada titik ekstrem yang berseberangan, dan berpotensi kembali melahirkan pertarungan narasi politik identitas seperti Pemilu 2019.
