Ketika Inflasi Beras Menjadi Waswas
- vstory
Meningkatkan produksi pertanian adalah hal yang harus dilakukan untuk menjamin kestabilan antara supply dan demand. Penduduk yang terus bertambah menuntut pemenuhan pangan yang juga meningkat. Tahun 2023 laju pertumbuhan penduduk Indonesia positif 1,13 persen.
Di sisi lain, penelitian menunjukkan bahwa penyumbang emisi karbon terbesar adalah sektor pertanian. Ironisme ini harus dicarikan solusinya agar ekonomi dapat terus tumbuh untuk menjaga daya beli masyarakat.
Di samping itu, isu lingkungan juga harus dijawab dengan merealisasikan ekonomi hijau. Salah satu alternatif solusi yang dapat dilakukan saat ini adalah dengan mempelajari dan mempraktikkan produksi beras rendah karbon. Beras rendah karbon dapat meningkatkan produktivitas pertanian namun juga mampu menjaga hijaunya lingkungan dengan mengurangi polusi air dan menjaga kesehatan tanah.
Transformasi ke beras rendah karbon harus dilakukan mengingat kondisi lingkungan saat ini sudah sangat terpapar emisi karbon, yang mana emisi karbon ini pada gilirannya akan mengganggu produksi pertanian itu sendiri. Looping ini bisa diputus rantainya dengan mengaplikasikan penggunaan beras rendah karbon.
Transformasi ini tentunya harus dinahkodai oleh pemerintah yang menjadi role model bagi masyarakat. Evidence based policy bisa dilihat dari transisi beras rendah karbon yang telah dilakukan di Vietnam dengan pendanaan dari Bank Dunia.
Namun, Bank Dunia mengingatkan bahwa, jika negara menunda transformasi ini, pembiayaan ini akan menjadi lebih besar lagi. Untuk menghasilkan hasil statistik yang positif saat ini, sangat penting bagi semua pihak yang terlibat dalam rantai pasokan dan pemasaran beras untuk bekerja sama.
