- vstory
Secara lahiriah Ramadhan mengajarkan kita disiplin, punya self control, sekaligus self preventif dari perilaku tercela dan seterusnya. ..
Kebaikan batiniahnya membuat kita bisa, "terbiasa" dan "berbiasa" bergaul dengan hati bersih, mulut santun, pikiran jernih, penuh solidaritas dan pengertian, dan makmur dengan seribu satu perbuatan maslahat.
Sejatinya, apa yang kita lakukan dan latih sebulan penuh, bukanlah sesuatu yang akan tanggal dan ditinggalkan di bulan Syawal. Kita dilatih satu bulan dalam rangka menyimpan bekal dan modal untuk menjalankan 11 bulan
kehidupan berikutnya.
Sejatinya, Ramadhan adalah ibadah rahasia, ibadah yang hanya kita dan Allah saja yang tahu. Di bulan Ramadhan kita dilatih mengkonstrusikan ibadah rahasia tadi ke dalam simpul simpul kehidupan nyata.
Ibadah rahasia yang dilakukan untuk melatih pemantapan proses ibadah rahasia, melahirkan dua wajah sekaligus.
Pertama, wajah pemantapan korektif. Sebelas bulan sebelumnya mungkin kita teledor menjaga hati, sempat takabur dan sombong, teledor menyembunyikan kebaikan, teledor berbagi, teledor menjaga hati dan perasaan, maka di Ramadhan inilah Allah mempersembahkan momentum ampunannya. Momentum pertaubatan massal. Supaya setelah Ramadhan, kita menjadi tak ubahnya dengan manusia yang baru dilahirkan . Bersih dosa. Karena bersih hati, bersih pikiran dan bersih perilaku.
Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan berharap pahala (dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni." (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan suka cita dan semangat untuk beribadah, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedua, wajah pemantapan adaptif. Di mana orang yang berpuasa potensial menyertakan proses dan hasil pengendalian hawa nafsunya sebagai fungsi kontrol dalam kehidupan 11 bulan mendatang.
Maka terbayang bagaimana akan luar biasanya, ketika konstruksi kehidupan sosial terbangun dengan berbasis fondasi individu yang beriman, penuh rasa tawadhu, patuh dan taat pada ketentuan Allah.
Di bulan Ramadhan, orang akan berlomba kebaikan, berlomba mencegah kesalahan. Jika karakter orang yang berpuasa seperti ini dikonstruksi menjadi kenyataan sosial, maka bisa dibayangkan maslahatnya... Polisi bisa cuti sebulan penuh... (Idrus Marham, Politisi Golkar)
