- VoxPop/Ikhwan Yanuar
Kita lebih dekat ke Suriah dibanding ke AS dan kami juga terdampak dengan serangan teroris. Tujuan kehadiran Rusia di Suriah juga sah karena kami diminta oleh pemerintah Suriah yang sah untuk berada di sana untuk melawan teroris dan bukan mendukung Assad.
AS menyatakan akan menjatuhkan sanksi baru kepada Rusia. Apakah Rusia sudah siap dan mungkin telah menyiapkan berbagai antisipasi?
Kami sudah hidup dengan sanksi selama beberapa tahun ini. Tapi Rusia adalah negara besar dengan banyak sumber daya. Kami memiliki sumber daya alam, kami memiliki sumber daya manusia, industri yang berkembang dan agrikultur. Jadi pada dasarnya kami tidak takut dengan sanksi apa pun.
Bahkan ada sanksi yang justru membantu kita, contohnya untuk mengembangkan pertanian. Tahun lalu Rusia menjadi eksportir pertama untuk gandum. Jadi kami berharap tahun ini PDB akan meningkat dua persen dan itu tidak buruk dan kami tidak akan tertekan. Jika dilihat, sanksi secara unilateral juga tidak akan berhasil dengan baik. Kita bisa lihat contohnya di Iran dan Korea Utara.
Bagaimana posisi Rusia di DK PBB dalam hal membuat negara-negara lain yakin bahwa Rusia bukan aktor di balik serangan kimia yang dituduhkan?
Kami akan terus memberitahukan kebenaran. Kami tidak berusaha untuk meyakinkan pihak lain tapi kami hanya menyampaikan kebenaran. Saya sudah sebutkan tadi bahwa Rusia telah menghancurkan senjata kimia dan berkomitmen dengan CWC.
Jika Anda tahu kasus Skripal di Inggris, ketika Rusia juga dituduh menggunakan senjata kimia, sebenarnya sejauh ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Rusia berhubungan dengan insiden ini. Inggris juga tidak
memberikan informasi apa pun kepada kami. Kami hanya mengetahui lewat media sosial dan media massa.
Kami juga tidak mendapatkan akses kekonsuleran kepada warga negara kami dan kami tidak melihat adanya bukti. Saya pikir orang lain juga tidak menemukan bukti bahwa Rusia memiiliki terkait. Menlu Lavrov juga menyebutkan bahwa dalam pemeriksaan laboratorium secara independen di Swiss terkait kasus Skripal, ditemukan kandungan kimia lain yang digunakan di mana bahan kimia itu diproduksi di AS dan Inggris, dan digunakan oleh negara-negara anggota NATO.
