Pantai Kayuburu Tuan Rumah Festival Nasional Musik Tradisi
Senin, 11 April 2016 - 07:43 WIB
Sumber :
- VoxPop.co.id/Ikhwan Yanuar
VoxPop.co.id
- Dunia musik di tanah air belakangan semakin berkembang. Apalagi semenjak teknologi semakin canggih. Menyikapi hal ini, Kementerian dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menggelar kegiatan musik bagi anak-anak. Acara tersebut bertajuk Festival Nasional Musik Tradisi 2016.
Festival ini akan digelar di Pantai Kayuburu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, 22-23 April 2016. Bekerja sama dengan pemerintah kabupaten setempat, lokasi acara ini berada di tempat Sail Tomini digelar pada 2015 lalu. Ini sebagai penerapan dari pesan Presiden Joko Widodo yang meminta Sail Tomini dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan lain di lokasi tersebut.
“Mengapa diadakan di sana? Saya kira ini ada kaitannya dengan keinginan untuk mengembangkan daerah karena semangat dari pemerintah saat ini untuk membangun Indonesia dari pinggiran. Perlu juga kegiatan-kegiatan nasional diselenggarakan di daerah agar semua ini juga punya rasa agar menjadi bagian dari Indonesia ini,” ungkap Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilman Farid lewat rilis yang dikirmkan pada VoxPop.co.id.
Sebagai penyelenggara acara, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud, mengusung tema ‘Semarak Nada Indonesia’ dalam Festival musik ini. Harapannya adalah agar musik-musik tradisi dari berbagai wilayah di Indonesia mempunyai eksistensi kembali melalui sentuhan anak-anak, di mana seperti diketahui, dalam era teknologi ini musik-musik tradisi mulai dilupakan.
Sekitar 400-an anak dengan kisaran usia 8-12 tahun dari 34 provinsi akan meramaikan acara ini. Mereka akan membawakan lagu-lagu dari daerahnya masing-masing dengan berbagai aransemen yang mereka ciptakan. Festival ini, disebut Hilmar, merupakan program yang bergulir setiap tahunnya di Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud sejak tahun 1970.
“Festival ini tujuannya untuk mengumpulkan bukan hanya bakat, tapi juga hasil kerja anak-anak yang ingin merawat tradisi melalui kesenian. Festival seperti ini sebenarnya sudah berlangsung cukup lama dan sudah membuktikan bahwa begitu banyak potensi yang sebetulnya ada di dalam produksi merawat kesenian. Ini momen untuk mengumpulkan semua bakat dan juga hasil kerja keras dalam bentuk festival,” jelas lulusan Sejarah Fakultas Sastra UI itu.
“Kalau biasanya Indonesia dalam bayangan orang adalah Jakarta, sekarang diadakan di Parigi Moutong, justru untuk memberikan rasa itu. Dengan begitu anak-anak berprestasi dari 34 provinsi ini juga bisa mengalami Indonesia secara konkrit,” lanjut Hilmar.
Baca Juga
Festival ini akan digelar di Pantai Kayuburu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, 22-23 April 2016. Bekerja sama dengan pemerintah kabupaten setempat, lokasi acara ini berada di tempat Sail Tomini digelar pada 2015 lalu. Ini sebagai penerapan dari pesan Presiden Joko Widodo yang meminta Sail Tomini dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan lain di lokasi tersebut.
“Mengapa diadakan di sana? Saya kira ini ada kaitannya dengan keinginan untuk mengembangkan daerah karena semangat dari pemerintah saat ini untuk membangun Indonesia dari pinggiran. Perlu juga kegiatan-kegiatan nasional diselenggarakan di daerah agar semua ini juga punya rasa agar menjadi bagian dari Indonesia ini,” ungkap Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilman Farid lewat rilis yang dikirmkan pada VoxPop.co.id.
Sebagai penyelenggara acara, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud, mengusung tema ‘Semarak Nada Indonesia’ dalam Festival musik ini. Harapannya adalah agar musik-musik tradisi dari berbagai wilayah di Indonesia mempunyai eksistensi kembali melalui sentuhan anak-anak, di mana seperti diketahui, dalam era teknologi ini musik-musik tradisi mulai dilupakan.
Sekitar 400-an anak dengan kisaran usia 8-12 tahun dari 34 provinsi akan meramaikan acara ini. Mereka akan membawakan lagu-lagu dari daerahnya masing-masing dengan berbagai aransemen yang mereka ciptakan. Festival ini, disebut Hilmar, merupakan program yang bergulir setiap tahunnya di Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud sejak tahun 1970.
“Festival ini tujuannya untuk mengumpulkan bukan hanya bakat, tapi juga hasil kerja anak-anak yang ingin merawat tradisi melalui kesenian. Festival seperti ini sebenarnya sudah berlangsung cukup lama dan sudah membuktikan bahwa begitu banyak potensi yang sebetulnya ada di dalam produksi merawat kesenian. Ini momen untuk mengumpulkan semua bakat dan juga hasil kerja keras dalam bentuk festival,” jelas lulusan Sejarah Fakultas Sastra UI itu.
“Kalau biasanya Indonesia dalam bayangan orang adalah Jakarta, sekarang diadakan di Parigi Moutong, justru untuk memberikan rasa itu. Dengan begitu anak-anak berprestasi dari 34 provinsi ini juga bisa mengalami Indonesia secara konkrit,” lanjut Hilmar.
Halaman Selanjutnya
