Macho Lewat Terapi Hormon
- Instagram.com/ivan_gunawan
"Nggak ada masalah. Ivan sebelumnya punya (keturunan) janggut dan brewok. Bahkan bulu dadanya bisa tumbuh lebat terus dia pangkas sampai habis. Kalau kemudian ia ingin mengembalikan dengan terapi hormon ya enggak apa-apa," ucap Heru.
Heru menambahkan kebutuhannya untuk mengembalikan fisik layaknya laki-laki bagi Ivan merupakan hal penting agar dirinya terlihat lebih jantan. Namun berdasarkan pengalamannya, terapi hormon tidak menjamin perilaku seseorang yang menjalaninya berubah, terkecuali soal fisik.
Terapi hormon apapun, kata dia, tak bisa memperbaiki orientasi seksual seseorang. Namun mampu meningkatkan gairah seksual.
"Ya, misal seseorang yang banci lalu jadi jantan secara total itu tidak bisa. Jadi tidak bisa memperbaiki orientasi seksual. Tapi memperbaiki fisik bisa kalau memang asalnya ada (turunan brewok dan berjanggut)," ucap Heru.
Keinginan pasien untuk berubah, ia menambahkan, harus didukung oleh dirinya sendiri. Sebab tidak sedikit pasien yang gagal menjalani terapi hormon lantaran tak ada niat serius untuk mengubah perilaku.
"Ada pasien yang orientasi seksualnya cenderung homo seksual lalu dia ingin terapi hormon. Tetapi selama dirinya tak punya keinginan kuat kembali normal yakni menyukai lawan jenis, ya tetap tidak bisa. Mubazir terapi hormonnya, jika tidak diikuti keinginan kuat," tegas Heru.
Soal terapi hormon yang jarang terdengar di tengah publik, Heru menjawab singkat. Menurutnya, tak semua pasien ingin dipublikasi dengan berbagai alasan.
"Bukan populer atau tidak. Belum tentu orang yang berobat dengan terapi hormon mau dipublish. Mereka mungkin punya alasan sendiri, bisa saja malu," ucapnya. (umi)
