Benarkah Rusia Tahan Sanksi Ekonomi Usai Invasi Ukraina, Ini Faktanya
- ANTARA/Russian Pool/via Reuters/pri
VoxPop – Rusia terus melakukan agresinya di wilayah Ukraina hingga Jumat 25 Februari 2022. Bahkan, tank dan tentara khusus Rusia dikabarkan telah melakukan pertempuran sengit di jalan-jalan ibu kota Kiev, Ukraina.
Atas aksinya tersebut, Rusia mendapatkan kecaman dari negara-negara di dunia. Bahkan, pihak negara barat, Jepang, Taiwan dan Australia bersama-sama memberikan sanksi ekonomi terhadap negara Beruang Merah tersebut.
Tapi faktanya, sanksi ekonomi yang diberikan terhadap Rusia diperkirakan bakal dihadapi, sebab Rusia diperkirakan telah mempersiapkan ekonominya sebelum melakukan invasi ke negara tetangganya.
Baca juga: Negara Ini Bakal Cuan dan Selamatkan Rusia dari Sanksi Ekonomi
Bahkan, Pengamat Hukum Internasional, Hikmahanto Juwana mengungkapkan sanksi ekonomi dipastikan tak akan berdampak besar bagi rakyat Rusia. Dan Rusia akan bisa bertahan enam hingga 1 tahun usai diberikan sanksi dunia.
Lalu, sebenarnya seberapa kuat ekonomi Rusia saat ini?
Berdasarkan buku fakta dunia yang dikeluarkan Central Intelligence Agency (CIA), yang dikutip VoxPop pada Jumat 25 Februari 2022, di jelaskan bahwa Rusia telah mengalami perubahan signifikan sejak runtuhnya Uni Soviet.
Di mana kini Rusia bergerak dari ekonomi yang terpusat menuju sistem yang lebih berbasis pasar. Namun, dari kondisi itu Rusia masih menjadi negara dengan ekonomi statis dengan konsentrasi kekayaan tinggi di tangan pejabat.
Rusia adalah salah satu produsen minyak dan gas alam terkemuka di dunia, dan juga pengekspor utama logam seperti baja dan aluminium primer. Tapi, kini negara itu sangat bergantung pada pergerakan harga komoditas dunia.
Pada periode 1998-2008, ekonomi Rusia tumbuh rata-rata 7 persen karena harga minyak naik dengan cepat. Tapi kini telah mengalami penurunan karena habisnya modal pertumbuhan berbasis komoditas Rusia.
Tank Rusia bergerak ke kota di Timur Ukraina.
- ANTARA/Reuters/Carlos Barria/as
Selain itu, turunnya ekonomi Rusia usai komodoti boom juga karena kombinasi dari penurunan harga minyak, sanksi internasional dan batasan struktural mendorong Rusia ke resesi dalam pada 2015 dengan PDB turun ke 2,8 persen.
Penurunan berlanjut hingga 2016, dengan PDB berkontraksi 0,2 persen, tetapi berbalik pada 2017 karena permintaan dunia meningkat. Dukungan pemerintah untuk substitusi impor telah meningkat baru-baru ini dalam upaya untuk mendiversifikasi ekonomi dari industri ekstraktif.
