Pandemi Corona, Pabrik di Jalur Gaza Produksi APD untuk Israel
- Asharq Al-Awsat
"Terlepas dari pengepungan di Gaza, kami mengekspor masker dan APD ini ke seluruh dunia tanpa terkecuali. Kami merasa sedang menjalankan tugas kemanusiaan," ujar pemeilik Unipal 200, Bashir Bawab.
Sementara itu, dalam beberapa tahun terakhir, salah satu seorang pekerja tekstil terampil, Tamer Emad, mengaku, setiap bulannya hanya mampu mendapatkan pekerjaan selama satu pekan. Namun, satu bulan terakhir ini, ia sanggup memperoleh pendapatan 8 dolar AS per shift dalam sehari.
"Ini memberi kami keberkahan jelang bulan Ramadhan. Bulan suci segera dimulai, dan secara tradisi, kami harus banyak mengeluarkan banyak uang untuk berbelanja makanan dan lainnya," katanya.
Upah sebesar itu mencerminkan biaya hidup yang masih kurang layak bagi warga Gaza karena konflik berkepanjangan, yang membuat sebagian keluarga kurang mampu tertekan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sebab, untuk rata-rata biaya tempat tinggal, warga Gaza harus membayar sewa apartemen 2 kamar seharga 250 dolar AS per bulan.
Omar Shabab, salah satu ekonom yang juga mengepalai lembaga keuangan lokal, mengatakan, blokade Israel yang terlalu menekan warga Palestina akan memungkinkan terjadinya ekspoitasi. Hal ini disebabkan karena pekerja mendapatkan upah yang rendah, tapi hasil produksinya memberikan pemasukan yang banyak kepada orang lain.
Sebuah organisasi Israel yang mengadvokasi pelonggaran blokade di Gaza, Gisha, menyerukan, kepada pemimpin Israel untuk berkontribusi lebih banyak dalam mempromosikan kegiatan ekonomi wilayah itu.
"Pandemi telah menciptakan permintaan untuk produk-produk yang diproduksi di Gaza, tapi Israel sebahrusnya mencabut pembatasan perdagangan sepenuhnya sehingga penduduk Gaza dapat bekerja dan ekonomi Gaza yang goyah dapat menguatkan dirinya sendiri semampu mungkin terhadap ancaman krisis global yang lebih yang disebabkan oleh pandemi ini," demikian pernyataan Gisha.
Baca Juga: Kembali Caplok Wilayah Tepi Barat, Israel Dikecam Uni Eropa dan PBB
