Dominasi Mobil Listrik China Terancam! Uni Eropa dan Turki Perketat Aturan Dagang
- ET Auto
Keunggulan biaya ekspor kendaraan listrik China semakin tertekan akibat tingginya biaya produksi luar negeri. Di awal 2000-an, produsen mobil Jepang menghadapi masalah serupa ketika mereka memindahkan produksi ke luar negeri, yang pada akhirnya mengikis daya saing mereka.
Saat ini, perusahaan China seperti BYD menghadapi kenaikan biaya untuk mendirikan pabrik, logistik rantai pasok, dan upah tenaga kerja lokal. Sebagai contoh, pabrik BYD di Turki memang bertujuan menghindari tarif, namun menambah kompleksitas operasional. Sementara itu, pengawasan regulasi dari Uni Eropa dapat menambah biaya melalui kebijakan anti-dumping.
Pada tahun 2023, harga kendaraan listrik China masih 20–30% lebih rendah dibandingkan pesaingnya. Namun, ekspansi ke luar negeri bisa mengurangi selisih tersebut. Jika keunggulan harga ini hilang, kendaraan listrik China mungkin akan kehilangan daya tarik di pasar-pasar sensitif terhadap harga, sehingga membatasi potensi penjualan global.
Produsen mobil China juga menghadapi risiko besar dengan memindahkan produksi ke luar negeri. Walaupun saat ini kesepakatan bea masuk Turki dengan UE masih memberikan akses pasar, pengalaman masa lalu—seperti sanksi anti-dumping terhadap panel surya China—menunjukkan bahwa kebijakan bisa berubah dengan cepat. Jika Turki menegosiasikan ulang perjanjian dagangnya atau ditekan oleh UE, akses bebas bea bisa dicabut.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kanan) berjabat tangan dengan Menlu China, Wang Yi (kiri).
- ANTARA/Turkish presidency/Handout via Xinhua.
Selain itu, ketidakstabilan politik di negara tujuan produksi juga bisa mengganggu rantai pasok, sebagaimana yang pernah dialami perusahaan Barat di wilayah yang tidak stabil. Ketergantungan pada pusat produksi pihak ketiga menambah ketidakpastian dan bisa mengancam strategi ekspor kendaraan listrik jangka panjang China.
Pengalihan investasi ke produksi luar negeri juga dapat menghambat perkembangan industri kendaraan listrik China, karena mengurangi dana untuk inovasi domestik. Sejarah membuktikan bahwa industri otomotif Jepang tumbuh karena investasi yang konsisten dalam riset dan pengembangan (R&D), sementara perusahaan yang lebih fokus ekspansi ke luar negeri justru mengalami kemunduran inovasi.
Jika perusahaan-perusahaan China lebih banyak membangun pabrik di luar negeri daripada mengembangkan teknologi kendaraan listrik generasi berikutnya, mereka bisa kehilangan keunggulan dibandingkan pesaing dari Barat dan Jepang. Tanpa inovasi berkelanjutan, China bisa tertinggal dalam teknologi baterai, kendaraan otonom, dan bidang penting lainnya yang akan membentuk masa depan pasar kendaraan listrik.
