Dokumen Ungkap AS Diduga Mendanai Demo GenZ Nepal hingga Rp14 Triliun
- Anadolu
New Delhi, VoxPop – Kerusuhan di Nepal membangkitkan kecurigaan akan keterlibatan pihak asing. Dalam sebuah laporan yang dikutip media India, The Sunday Guardian, lebih dari $900 juta (setara Rp14 triliun) bantuan AS telah dikucurkan untuk mendanai aksi demo berdarah Nepal.
Pengunduran diri Perdana Menteri Nepal K.P. Sharma Oli pekan lalu, yang dipicu aksi protes berminggu-minggu oleh kelompok yang menyatakan diri sebagai "Generasi Z", telah menewaskan sedikitnya 30 orang dan membakar gedung-gedung pemerintahan serta bangunan komersial, menjerumuskan negara itu ke dalam ketidakpastian politik.
Ledakan kemarahan kaum muda dipicu atas maraknya korupsi di kalangan pejabat negara, flexing, pengangguran, dan larangan media sosial. Disisi lain, sejarah mencatat adanya upaya besar-besaran Amerika yang terdokumentasi untuk membentuk kembali ruang politik Nepal.
Pada bulan Maret, The Sunday Guardian membagikan dokumen internal yang bocor, membuktikan bagaimana sebuah rencana sedang berjalan untuk membawa perubahan rezim di negara Himalaya tersebut.
Aksi demonstrasi berujung kerusuhan di Nepal
- Sunday Guardian
Detail yang dibagikan oleh seorang whistleblower tingkat tinggi yang memiliki akses ke informasi sensitif tersebut, juga mengungkapkan nama-nama politisi lokal, yang diduga dikompromikan secara finansial untuk menjadi bagian dari seluruh proses ini.
Komunikasi internal USAID yang diakses oleh The Sunday Guardian, beserta keluaran program yang diterbitkan oleh organisasi-organisasi demokrasi AS, menunjukkan bahwa sejak 2020, lebih dari $900 juta bantuan AS telah dikucurkan untuk Nepal, sebagian besar disalurkan ke dalam kegiatan tata kelola pemerintahan, media, sipil, dan elektoral yang dijalankan oleh konsorsium CEPPS yang berbasis di Washington—Institut Demokrasi Nasional (NDI), Institut Republik Internasional (IRI), dan Yayasan Internasional untuk Sistem Elektoral (IFES).
Skala investasi ini tidak lazim untuk negara sebesar Nepal. Pada Mei 2022, USAID menandatangani Perjanjian Tujuan Pembangunan (DOAG) senilai $402,7 juta dengan Kementerian Keuangan Nepal. Hingga Februari 2025, $158 juta telah dicairkan, menyisakan $244,7 juta yang belum dibelanjakan.
Sejalan dengan itu, Perjanjian Millennium Challenge Corporation (MCC) senilai $500 juta, yang ditandatangani pada tahun 2017 dan baru diratifikasi pada Februari 2022 setelah protes sengit dan pertempuran parlemen, masih berlaku. Hingga awal 2025, baru $43,1 juta (8,63%) dana MCC yang telah dicairkan, tetapi periode implementasi Perjanjian diperpanjang, sehingga proyek infrastruktur dan tata kelolanya tetap berjalan.
