Iran Sanggup Lawan AS Tanpa Senjata Nuklir
- Middle East Images/Houssein Beris
VoxPop – Iran kembali menegaskan bahwa senjata nuklir sama sekali tidak termasuk dalam doktrin pertahanan negaranya. Pemerintah Iran menyatakan memiliki kemampuan pertahanan dan daya tangkal yang cukup untuk melindungi negara tanpa harus mengandalkan persenjataan nuklir.
Penegasan tersebut disampaikan Kepala Badan Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, dalam wawancara dengan media lokal pada Sabtu, 31 Januari 2026. Ia menekankan bahwa Iran tidak membutuhkan senjata nuklir untuk menjaga kedaulatan dan keamanannya.
"Senjata nuklir tidak memiliki tempat dalam doktrin militer Iran. Kami sepenuhnya mampu mempertahankan diri tanpa senjata tersebut dan telah memiliki kemampuan pencegahan yang memadai," kata Eslami.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump sebelumnya memperingatkan Iran agar menghentikan ambisi nuklirnya guna menghindari konfrontasi militer, seraya mengumumkan pengerahan armada laut besar AS ke kawasan dekat Iran.
Iran selama ini membantah tudingan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan militer. Teheran justru menuding Badan Energi Atom Internasional (IAEA) telah mempolitisasi isu nuklir Iran. Bahkan, Iran menuduh Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi ikut memfasilitasi serangan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu.
Eslami menyebut berkas nuklir Iran sarat kepentingan politik dan berada di bawah tekanan kekuatan eksternal. Menurutnya, Teheran tidak optimistis kasus tersebut akan ditutup dan justru memperkirakan tekanan internasional akan semakin meningkat.
Ia mengingatkan bahwa proses perundingan nuklir telah berlangsung selama bertahun-tahun dan melibatkan sejumlah pemerintahan Iran hingga tercapai kesepakatan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).
Namun, Eslami menilai Amerika Serikat bersama Inggris, Jerman, dan Prancis gagal memenuhi komitmen mereka, yang berpuncak pada pengakhiran kesepakatan melalui mekanisme snapback pada akhir tahun lalu.
Terkait serangan militer, Eslami menyebut pemboman fasilitas nuklir Iran selama perang 12 hari pada Juni 2025 sebagai tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia menegaskan bahwa serangan terhadap fasilitas nuklir melanggar hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Ia juga menekankan bahwa fasilitas yang diserang seluruhnya terdaftar di IAEA dan berada di bawah pengawasan ketat badan tersebut. Meski demikian, menurutnya, IAEA tidak mengambil langkah berarti setelah serangan terjadi.
