China Perluas Siaran Negara Berbahasa Tibet, Dua Radio AS Dibekukan
- AP Photo/ Gurinder Osan
RSF menggambarkan Daerah Otonomi Tibet sebagai “lubang hitam informasi”. Organisasi itu menyebut otoritas setempat secara ketat memantau dan menekan individu yang mengakses atau menyebarkan informasi independen, terutama terkait isu hak asasi manusia. Jurnalis asing disebut rutin dilarang masuk, sehingga verifikasi independen atas perkembangan di lapangan sangat terbatas.
Bahkan ketika RFA dan VOA masih aktif, mendengarkan siaran keduanya bukan tanpa risiko. Warga Tibet dilaporkan menghadapi pengawasan hingga hukuman karena mengakses atau membagikan konten berita asing.
Kontrol juga diperketat di sektor televisi. Di Prefektur Ngari, perangkat penerima satelit pribadi dilaporkan dilarang. Di Kabupaten Coqên (Tsochen), lebih dari 3.500 perangkat televisi satelit yang dipasang pemerintah telah didistribusikan di 17 desa, membatasi akses rumah tangga pedesaan dan komunitas nomaden terhadap siaran luar.
RSF mengutip pernyataan resmi yang menyebut pemerintah Tiongkok berencana memasang sistem satelit yang dikendalikan negara di seluruh 74 divisi administratif tingkat kabupaten di Wilayah Otonomi Tibet pada akhir 2025. Namun, implementasi penuh proyek tersebut sulit diverifikasi karena ketatnya pembatasan terhadap jurnalisme independen di wilayah tersebut.
