Mengenal Sosok Alireza Arafi Pemimpin Tertinggi Sementara Iran Usai Khamenei Tewas

Ayatollah Alireza Arafi jadi pemimpin sementara Iran menggantikan Ali Khamenei
Sumber :
  • Iran Int

Iran, VoxPop – Minggu 1 Maret 2026, Alireza Arafi ditunjuk sebagai anggota yuris dari Dewan Kepemimpinan Sementara Iran. Penunjukan ini dilakukan setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan AS-Israel.

img_title Harga Emas Hari Ini 4 Agustus 2026: Produk Antam Melorot, Global Bervariasi

Dewan yang terdiri dari tiga anggota ini akan menjalankan tugas-tugas Pemimpin Tertinggi sampai Majelis Ahli memilih pengganti, lapor Reuters mengutip ISNA. Selain Arafi, dua anggota lainnya adalah Presiden Masoud Pezeshkian dan Ketua Mahkamah Agung Gholamhossein Mohseni Ejei.

“Kami sudah mempersiapkan momen seperti ini dan memiliki rencana untuk semua skenario, termasuk waktu setelah syahidnya Imam Khamenei yang dihormati,” kata Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf dikutip dari laman  Sky News.

img_title Bukan Iran, Trump Tegaskan Cuma AS yang Pungut Biaya di Selat Hormuz

Lantas siapakah Alireza Arafi? Melansir laman NDTV News, Selasa 3 Maret 2026, Alireza Arafi lahir pada 1959 di kota Meybod, Provinsi Yazd, Iran tengah. Ia berasal dari keluarga ulama. Ayahnya, Mohammad Ibrahim Arafi, adalah tokoh agama yang kemudian disebut media pemerintah dekat dengan mantan Pemimpin Tertinggi Ruhollah Khomeini, menurut laporan Middle East Institute.

Pada 1969, saat berusia 11 tahun, Arafi pindah ke Qom, pusat pendidikan agama utama di Iran, untuk melanjutkan studinya. Di sana, ia belajar di bawah bimbingan ulama senior. Selama bertahun-tahun, ia menempuh pendidikan agama tingkat lanjut dan memperoleh gelar mujtahid, yang memungkinkannya menafsirkan hukum Islam secara mandiri. Bidang keahliannya meliputi fiqih dan filsafat Islam. Ia juga fasih berbahasa Arab dan Inggris, serta telah menulis buku dan artikel.

img_title Harga Minyak Dunia Turun usai AS Lanjutkan Perundingan Damai dengan Iran

Saat Revolusi Islam 1979, Arafi berusia 21 tahun. Pada 1980-an, ia tetap menjadi salah satu ulama muda di Republik Islam yang baru terbentuk.

Kariernya mulai menanjak setelah Ayatollah Ali Khamenei menjadi Pemimpin Tertinggi pada 1989. Pada 1992, di usianya yang baru 33 tahun, Arafi ditunjuk sebagai imam shalat Jumat di Meybod, menurut Siasat. Seiring waktu, ia menerima lebih banyak jabatan penting. Pada 2015, ia menjadi imam shalat Jumat di Qom, posisi yang dianggap kunci dalam struktur keagamaan Iran.

Arafi juga menjadi ketua Universitas Internasional Al-Mustafa, sebuah lembaga yang dibentuk untuk melatih ulama Syiah non-Iran dan menyebarkan ideologi Republik Islam ke luar negeri, menurut laporan Middle East Institute. Universitas ini resmi berdiri pada 2009 setelah menggabungkan beberapa inisiatif sebelumnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut