AS 'Ketar-Ketir', Persediaan Rudal Tomahawk Untuk Serang Iran Menipis

VoxPop Militer: Rudal jelajah BGM-109 Tomahawk buatan Amerika Serikat
Sumber :
  • defence-ua.com

VoxPop Amerika Serikat dan Israel disebut-sebut sedang “menguras habis” persediaan rudal Tomahawk dan rudal pencegat mereka dalam perang melawan Iran. Kondisi ini pun membuat sebagian pihak di Pentagon khawatir.

img_title Pengadilan Larang Menteri Israel Ben-Gvir Pakai Buaya Jaga Lapas Tahanan Teroris

Menurut pejabat yang berbicara kepada The Washington Post, AS telah menembakkan lebih dari 850 rudal jelajah Tomahawk selama empat minggu perang dengan Iran. Padahal, setiap tahunnya hanya beberapa ratus rudal jenis ini yang diproduksi. Meskipun Pentagon tidak mengungkap jumlah pasti stoknya, seorang pejabat mengatakan bahwa jumlah Tomahawk yang tersisa di Timur Tengah kini sangat mengkhawatirkan.

Melansir laman Middle East Eye, Rabu 1 April 2026, rudal Tomahawk diketahui mampu menjangkau lebih dari 1.600 kilometer, sehingga memungkinkan militer AS menyerang target di Iran tanpa harus mengirim pilot ke wilayah udara yang berbahaya.

img_title Tak Main-main, Iran Anggap Semua Jenis Ancaman Musuh Nyata dan Bakal Direspon Serius

Namun, menipisnya stok Tomahawk diperkirakan akan memicu spekulasi soal rencana operasi darat ke Iran, setelah kampanye udara dan pembunuhan sejumlah pemimpin senior belum berhasil menggoyahkan Republik Islam tersebut.

Stok Mulai Menipis

img_title Penembakan di Restoran AS, Sejumlah Orang Dilaporkan Tewas

Peringatan ini muncul setelah berulang kali ada laporan tentang menurunnya stok rudal pencegat AS-Israel dan sumber daya lainnya selama hampir sebulan konflik dengan Iran.

Berdasarkan data dari lembaga pemikir keamanan Inggris, RUSI, pasukan AS dan Israel telah menghabiskan 11.294 amunisi dalam 16 hari pertama konflik, dengan biaya sekitar 26 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 421,2 Triliun.

Dalam laporan yang dirilis Selasa lalu, lembaga tersebut memperingatkan bahwa rudal pencegat jarak jauh dan senjata serangan presisi kini hampir habis.

“Diperkirakan butuh setidaknya lima tahun untuk mengisi kembali lebih dari 500 rudal Tomahawk yang sudah digunakan dalam perang ini,” demikian isi laporan tersebut.

Seorang pejabat juga mengatakan kepada The Washington Post bahwa Menteri Pertahanan Pete Hegseth secara langsung telah mendesak perusahaan-perusahaan pertahanan untuk mempercepat pengiriman senjata-senjata penting.

Untuk diketahui, berdasarkan data dari Bulan Sabit Merah Iran, lebih dari 1.900 orang tewas dan sedikitnya 20.000 lainnya terluka di Iran sejak serangan AS dan Israel dimulai pada Februari.

Serangan tersebut, yang pada tahap awal menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, sejauh ini belum berhasil memberikan pukulan telak terhadap Republik Islam. Sementara itu, serangan balasan Iran justru menimbulkan kekacauan di kawasan Teluk.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut