Fakta Penembakan Tragis di Sekolah Thailand, Pelakunya Siswa 14 Tahun
- AFP
4. Alasan penembakan diduga lantaran pelaku alami tekanan
Perdana Menteri mengatakan tersangka diduga mengalami tekanan terkait studinya. Disebutkannya bahwa sang nenek merupakan seorang guru dan ingin cucunya bisa berprestasi secara akademis.
"Kami mengetahui dari wawancara dengan salah satu teman dekatnya bahwa dia sedang mengalami tekanan dan mengeluhkan beban terkait studinya. Neneknya adalah seorang guru dan ingin dia berprestasi secara akademis, sehingga dilaporkan cukup keras terhadapnya,"kata Anutin kepada wartawan.
Anutin menambahkan bahwa tersangka tampaknya telah memiliki rencana yang jelas dan target yang spesifik.
Polisi mengatakan tersangka juga sempat mencari situs web tentang penembakan massal sebelum melakukan aksinya. Senjata yang digunakan diketahui milik kakeknya dan telah terdaftar secara resmi.
Ayah tersangka mengatakan kepada CNN bahwa ia tidak mengetahui alasan anaknya melakukan penembakan tersebut.
"Anak saya bersalah, dia telah menyakiti orang lain. Saya tidak punya apa-apa lagi untuk dikatakan. Namun, saya masih tidak tahu mengapa dia melakukan itu," kata sang ayah kepada CNN.
Ia menambahkan bahwa dirinya tidak pernah melihat tanda-tanda kekerasan dari anaknya.
"Saya masih tidak tahu mengapa dia harus membunuh kakek dan neneknya sendiri," ujarnya.
5. Thailand perketat keamanan termasuk soal pengaturan kepemilikan senjata pribadi
Sebagai respons atas penembakan tersebut, pemerintah Thailand mulai mengambil langkah untuk memperketat keamanan.
Anutin mengatakan bahwa undang-undang baru nantinya hanya akan mengizinkan pejabat pemerintah yang sedang bertugas untuk membawa senjata api. Namun, ia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai aturan tersebut.
Kementerian Pendidikan Thailand dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa setelah insiden ini, langkah-langkah keamanan di sekolah akan diperkuat secara signifikan.
Kementerian juga mengatakan bahwa peningkatan keamanan sekolah dan langkah-langkah untuk melindungi siswa akan dibahas lebih lanjut. Pemerintah turut mengumumkan bantuan keuangan, termasuk sebesar 20.000 baht Thailand atau sekitar Rp 10,7 juta bagi keluarga korban yang meninggal dan 5.000 baht Thailand atau sekitar Rp 2,7 juta bagi mereka yang mengalami luka-luka.
Wakil Perdana Menteri Thailand Yodchanan Wongsawat juga mengatakan pada Jumat bahwa pemerintah akan mengumumkan rencana aksi kesehatan mental untuk memberikan dukungan kepada para guru dan siswa.
