Penembakan oleh Siswa di Thailand, Benarkah Dipicu Perundungan? Ini Kesaksian Teman dan Keluarga

Proses evakuasi di sekolah Debsirin Nonthaburi School Thailand
Sumber :
  • AFP

Pada hari penembakan, kata M, seluruh siswa, termasuk pelaku, mengikuti upacara pengibaran bendera pada pagi hari dan mengikuti pelajaran seperti biasa. Penembakan terjadi pada jam pelajaran kedua, atau tepatnya saat jam pelajaran matematika. Ketika guru sedang menjelaskan tugas dan mempersiapkan siswa untuk menghadapi kegiatan belajar ulang atau peninjauan materi.

img_title Eks Ketua Yayasan Dipanggil, Polisi Telusuri Asal-usul 996 Senjata di Sekolah Swasta Jaksel

"Sebelum penembakan, tidak ada tanda-tanda peringatan ataupun suasana yang tegang," kata M.

Saudara perempuan dari nenek siswa tersebut juga menegaskan bahwa ia adalah anak yang baik dan tidak pernah membuat masalah bagi kakek-neneknya maupun orang lain. Menurutnya, anak itu tidak mudah terpengaruh oleh teman-temannya. Ia pergi ke sekolah pada pagi hari dan pulang tepat waktu. Pada akhir pekan, ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah daripada berkunjung ke tempat lain.

img_title Polisi Temukan Surat Impor Airsoft Gun di Balik Temuan 996 Senjata di Sekolah Jaksel

Ia mengatakan bahwa anak tersebut bermain game komputer, meskipun dirinya tidak mengetahui game apa yang dimainkan. Ia juga menegaskan bahwa anak tersebut bukan anak yang kasar atau suka melakukan kekerasan. Ia menggambarkannya sebagai anak yang berperilaku baik, cenderung menyendiri, dan tidak banyak bergaul dengan orang lain.

Ia menambahkan bahwa kakek dan neneknya, yang menjadi korban tewas dalam penembakan tersebut, tidak pernah memberikan tekanan kepadanya. Polisi mengatakan telah mewawancarai lebih dari 20 guru dan siswa. Polisi juga akan meminta keterangan dari guru bahasa Thailand yang disebut-sebut berkaitan dengan kasus tersebut.

img_title Polisi Sebut Cuma 1 Senpi di Sekolah Swasta Jaksel dan Pemiliknya Sudah Meninggal, 995 Lainnya Senapan Angin

Selain itu, polisi sedang menyelidiki asal amunisi yang digunakan dalam penembakan serta mencari tahu apakah tersangka sebelumnya pernah mendapatkan pelatihan menggunakan senjata api.

Sebagaimana dikabarkan sebelumnya, Jumat kemarin seorang siswa berusia 14 tahun menggunakan pistol 9 mm milik kakeknya untuk menembak guru dan siswa di dalam sekolah, setelah sebelumnya menembak hingga tewas kakek dan neneknya di rumah. Ia kemudian mengakhiri hidupnya sendiri. Dalam kejadian tersebut, sembilan orang meninggal dunia dan 21 orang lainnya terluka, termasuk 19 siswa dan dua guru.

Ilustrasi penembakan.

Polda Papua Ungkap Kondisi Dua Korban Penembakan OTK di Festival Budaya Lembah Baliem

Polda Papua menyatakan korban penembakan di Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB), Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan sudah dalam keadaan sadar.

img_title
VoxPop.co.id
9 Agustus 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut