Ustad Indonesia di AS: LGBT Muslim Masih Jadi Kontroversi

Pria gay
Sumber :
  • Boldsky

VoxPopnews - Pengajar studi Islam di Universitas California di Riverside, Amerika Serikat, Muhammad Ali mengatakan jumlah warga Muslim di Negeri Paman Sam mencapai tiga hingga tujuh juta orang.

img_title Hasil MotoGP Inggris 2026: Raul Fernandez Juara, Martin dan Bezzecchi Lengkapi Podium

Sebagian di antara mereka masuk ke dalam kelompok Muslim Progresif yang nota bene merupakan kaum gay dan lesbian. Ditemui semalam di Pusat Kebudayaan Amerika Serikat di Pacific Place, Jakarta Selatan usai mengisi acara diskusi mengenai kehidupan Islam di sana, Ali membenarkan adanya kelompok tersebut.

Namun, dia mengatakan, menjadi gay atau lesbian di AS merupakan faktor budaya. "Di AS memungkinkan orang untuk menjadi apa saja. Hukumnya memberikan kemungkinan itu. Namun, bukan berarti kelompok ini tidak menghadapi kontroversi, karena belum semua negara bagian menyetujui UU pernikahan sesama jenis," kata Ali.

Bila berkaca di Indonesia, lanjut pria yang juga menjadi ustad itu, pengaruh agama cukup kuat, sehingga gay dan lesbian tidak berkembang. "Sementara di AS, budaya itu sudah ada cukup lama," ucap dia.

Ali berkisah, bahkan di AS ada seorang Imam Muslim yang secara terbuka mengakui gay. Dilansir dari stasiun berita Al-Jazeera pada Desember tahun lalu, Imam tersebut diketahui bernama Daayiee Abdullah.

img_title Iran Tidak Akan Buka Selat Hormuz Jika AS Tak Penuhi Sejumlah Syarat Ini

Diyakini baru Abdullah lah satu-satunya Imam yang secara terbuka mengaku dirinya gay di AS. "Tapi dia masih baru dan menjadi kontroversi. Artinya, orang Muslim rata-rata masih belum bisa menerima kehadiran dia," ujar Ali.

Abdullah yang sebelumnya muallaf mempelajari agama hingga ke Mesir, Yordania dan Suriah. Dia mengaku tergerak menjadi Imam, karena melihat kelompok lesbian, gay, dan transgender Muslim belum berhasil memenuhi kebutuhan spritual mereka.

"Kadang kebutuhan menjadi sumber penemuan. Dan karena kebutuhan itu di komunitas kami, oleh sebab itu saya mengemban peran ini," kata Abdullah saat berbicara di program talkshow, America Tonight.

Dia kemudian mendirikan sebuah organisasi Masjid Cahaya Perubahan di Washington, D.C. Berbeda dengan masjid dan ritual yang digunakan kaum Muslim pada umumnya, di tempat yang didirikan Abdullah, jamaah pria dan wanita dapat berdiri berdampingan untuk shalat.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Raul Fernandez On Fire di Silverstone, Jorge Martin Tetap Kokoh di Puncak Klasemen MotoGP
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut