Skandal Prostitusi dalam Kampus Menyeruak di China
Selasa, 28 Oktober 2014 - 13:03 WIB
Sumber :
- Reuters
VoxPopnews -
Pengelola sebuah kampus di China kebakaran jenggot. Maklum, ada berita yang menyebut bahwa bordil "bawah tanah" beroperasi di kampus mereka.
Skandal ini diungkap koran
Beijing Times edisi Senin lalu, seperti dikutip The Telegraph, 29 Oktober 2014. Media China itu menyebut pemegang kartu mahasiswa dapat diskon untuk pelayanan bordil yang beroperasi secara ilegal di sebuah hotel mewah berlantai lima di properti kampus. Beijing Times juga menyebut, bordil itu beroperasi dengan kedok "layanan pijat kaki".
Modusnya, mahasiswa yang mencari prostitusi kemudian mendatangi resepsionis hotel. Dia harus menyebutkan sandi khusus, yakni: "Saya mencari saudari Zhou untuk pelayanan kesehatan."
Seorang mahasiswa yang dijadikan whistleblower, “Mr Chen,” mengatakan kepada Beijing Times, dia sangat kaget saat menemukan ada ekstrakurikuler yang "ditawarkan" di dalam kampusnya.
“Apa yang terjadi di kampus kita ini keterlaluan," kata Mr Chen yang bukan nama sebenarnya. Orangtua mahasiswa, kata dia, menghabiskan uang yang sangat banyak untuk mengirimkan anak-anak mereka untuk belajar. "Mereka tentu tidak mengharapkan hal seperti ini (bordil) ada di lingkungan sekolah," kata dia.
Detail praktik mesum itu terungkap dari investigasi reporter Beijing Times. Sang reporter itu menyamar sebagai mahasiswa yang sedang mengumpulkan informasi soal pelayanan rahasia hotel tersebut. Koran ini juga mengklaim, hotel itu dikelola Guangxi Science and Education Group - perusahaan yang juga bertanggung jawab pada pengelolaan universitas itu.
Salah satu pegawai perempuan di hotel itu diduga menawarkan pekerja seks kepada reporter. Pegawai itu juga mengungkap bahwa pemegang kartu mahasiswa akan mendapat diskon.
“Anda bisa meminta perempuan mana saja yang Anda suka. Jadi, Anda tidak akan kecewa ketika perempuan itu datang," kata pekerja itu.
Namun, pekerja itu marah ketika reporter--yang menyamar sebagai mahasiswa--menawar harga darinya, 460 yuan atau lebih dari Rp900 ribu itu.
“Kalian mahasiswa, sangat kaya. Orangtua kalian memberi kalian uang yang banyak," kata pekerja itu lagi.
Otoritas Universitas langsung membantah pemberitaan itu. "Kampus kami tidak berkaitan dengan hotel. Tidak ada," kata seorang pejabat kampus yang menolak memberi namanya kepada
Baca Juga
Baca Juga
Skandal ini diungkap koran
Baca Juga
Modusnya, mahasiswa yang mencari prostitusi kemudian mendatangi resepsionis hotel. Dia harus menyebutkan sandi khusus, yakni: "Saya mencari saudari Zhou untuk pelayanan kesehatan."
Seorang mahasiswa yang dijadikan whistleblower, “Mr Chen,” mengatakan kepada Beijing Times, dia sangat kaget saat menemukan ada ekstrakurikuler yang "ditawarkan" di dalam kampusnya.
“Apa yang terjadi di kampus kita ini keterlaluan," kata Mr Chen yang bukan nama sebenarnya. Orangtua mahasiswa, kata dia, menghabiskan uang yang sangat banyak untuk mengirimkan anak-anak mereka untuk belajar. "Mereka tentu tidak mengharapkan hal seperti ini (bordil) ada di lingkungan sekolah," kata dia.
Detail praktik mesum itu terungkap dari investigasi reporter Beijing Times. Sang reporter itu menyamar sebagai mahasiswa yang sedang mengumpulkan informasi soal pelayanan rahasia hotel tersebut. Koran ini juga mengklaim, hotel itu dikelola Guangxi Science and Education Group - perusahaan yang juga bertanggung jawab pada pengelolaan universitas itu.
Salah satu pegawai perempuan di hotel itu diduga menawarkan pekerja seks kepada reporter. Pegawai itu juga mengungkap bahwa pemegang kartu mahasiswa akan mendapat diskon.
“Anda bisa meminta perempuan mana saja yang Anda suka. Jadi, Anda tidak akan kecewa ketika perempuan itu datang," kata pekerja itu.
Namun, pekerja itu marah ketika reporter--yang menyamar sebagai mahasiswa--menawar harga darinya, 460 yuan atau lebih dari Rp900 ribu itu.
“Kalian mahasiswa, sangat kaya. Orangtua kalian memberi kalian uang yang banyak," kata pekerja itu lagi.
Otoritas Universitas langsung membantah pemberitaan itu. "Kampus kami tidak berkaitan dengan hotel. Tidak ada," kata seorang pejabat kampus yang menolak memberi namanya kepada
Halaman Selanjutnya
Telegraph
