Proyek Pesawat Tempur RI-Korsel Tunggu Lisensi AS
- http://www.deviantart.ne
“Program pesawat tempur KFX/IFX adalah program nasional demi kepentingan bangsa dan negara. Kita harus mewujudkannya demi kemandirian bangsa membangun kekuatan pertahanannya,” kata Sjafrie kepada VoxPop.co.id, Rabu 30 Oktober 2013.
Tekad itu tak mengherankan karena bila proyek ini berhasil, KFX/IFX akan menjadi pesawat tempur pertama yang dibuat Indonesia.
Proyek tersebut kini memasuki tahap kedua, yakni pengembangan pesawat atau engineering manufacturing development. PT Dirgantara Indonesia menyiapkan 30 item dari 72 teknologi dalam pesawat itu. Untuk pengerjaan pesawat dengan skema joint production ini, Indonesia telah mengirimkan 40 orang teknisi dan insinyurnya ke Korsel pada pertengahan 2012.
Pengembangan teknologi jet tempur KFX/IFX akan dilakukan hingga 2020, dan dana yang dibutuhkan untuk memproduksi pesawat ini mencapai US$8 miliar. Indonesia mendapat porsi anggaran sebesar US$1,6 miliar.
Apa pun, ambisi RI dan Korsel untuk memiliki pesawat tempur buatan sendiri masih terganjal dana. Dalam pertemuan antara Ketua Parlemen Korsel Ahn Hong-joon dan Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tanjung, Mei 2013, terungkap bahwa pemerintah Korsel kesulitan mencari dana untuk proyek mahal tersebut. Namun, Hong-joon meyakinkan, proyek KFX/IFX tak akan terhenti.
Direktur Utama PT DI, Budi Santoso, mengatakan, jet tempur Korsel-RI ini nantinya akan lebih canggih dari F-16 buatan Amerika Serikat. “Kalau F-16 itu generasi keempat, F-35 generasi kelima, KFX/IFX di tengah-tengahnya. Sukhoi buatan Rusia masih generasi empat,” kata Budi.
Untuk diketahui, F-16 dan F-35 merupakan pesawat tempur buatan Amerika Serikat, namun diproduksi oleh perusahaan yang berbeda. F-16 dikeluarkan oleh General Dynamics, sedangkan F-35 dikembangkan oleh Lockheed Martin.
KFX/IFX buatan RI-Korsel nantinya akan diproduksi sebanyak 250 unit, dan Indonesia mendapat bagian 20 unit. Satu unit pesawat tempur ini nantinya dihargai sekitar US$70-80 juta.
